Cuaca Buruk Warga Dihimbau Waspada

Siswa saat berangkat ke sekolah dengan kondisi cuaca buruk. (Foto: Ria Rosita) 


Petungkriyono - Kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi memang perlu diwaspadai. Adanya angin kencang disertai hujan dan kabut tebal, menambah kesiagaan warga dalam melakukan aktivitas. Mereka diminta melaporkan segala kejadian yang mengindikasikan terjadinya bencana.

Masyarakat di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan diminta selalu waspada dan segera melaporkan setiap kejadian bencana. Siswa yang berangkat dan pulang sekolah pun diminta berhati-hati terhadap cuaca. Hal itu dikatakan Camat Petungkriyono, Agus Dwi Nugroho, Sabtu (28/1).

"Masing-masing desa mengaktifkan Posko Piket Penanggulangan Bencana Alam (PBA) dan selalu meningkatkan koordinasi dengan Muspika Petungkriyono," katanya.

Ia menambahkan, peran masyarakat untuk tanggap dan memberikan informasi sangatlah penting. Sehingga pihaknya bisa lebih cepat dalam melakukan setiap penanganan bencana alam.

" Kemudian untuk para siswa yang beraktivitas di sekolah juga harus selalu berhati-hati. bapak dan ibu guru diharapkan selalu waspada dan memberi pengarahan kepada siswa terkait kondisi cuaca. Agar siswa selalu merasa aman ketika melakukan perjalanan ke sekolah maupun ketika pulang ke rumah," katanya. (ria/fid)

Related Posts:

Perjuangan Guru di Negeri Atas Awan


Wahyu Hendro Wijayanto, 31, tengah mengajar di SD Negeri 02 Simego Kecamatan Petungkriyono. (Foto: wati)
Petungkriyono – Wahyu Hendro Wijayanto, 31, seorang guru di SD Negeri 02 Simego Kecamatan Petungkriyono harus berjuang lebih keras untuk mengajar di sekolah yang letaknya di dataran tinggi Pekalongan. Guru asal Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan ini harus menempuh jarak lebih dari 52 kilometer untuk sampai di sekolah, tempat ia mengajar.

Ia harus berjuang lebih keras untuk menempuh jalanan dengan medan yang cukup terjal. Dirinya harus lebih berhati-hati saat kondisi hujan. Di wilayah ini, hampir setiap hari turun hujan saat menjelang siang. Kekhawatiran pun sering menjadi kewaspadaan pohon tumbang yang sewaktu-waktu mengancam dirinya.

“Harus berhati-hati saat kondisi hujan. Karena sewaktu-waktu pohon di sepanjang jalan bisa tumbang,” katanya, Minggu (27/1).

Jika terjadi pohon tumbang, para guru harus saling bergotong royong untuk mengevakuasi pohon itu agar bisa dilewati kendaraan bermotor. Mereka pun harus rela terlambat untuk tiba di sekolah. Wilayah Petungkriyono merupakan wilayah hutan lindung di Kabupaten Pekalongan, sehingga hutan di wilayah itu masih alami.

Wahyu sudah mengajar di Kecamatan Petungkriyono semenjak 10 tahun silam, yakni berawal dari tahun 2006. Bapak dari satu anak ini harus sering menginap di sekolah tempatnya mengajar mengingat jarak ke rumah yang cukup jauh. Rata-rata sekolah di wilayah ini menyediakan kamar tidur bagi guru yang terpaksa harus menginap. Baik yang sudah berstatus PNS maupun honorer.

Desa Simego, Kecamatan Petungkriyono merupakan salah satu desa yang berada di paling ujung selatan Kabupaten Pekalongan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara. Daerah ini biasa juga disebut negeri di atas awan karena setiap hari selalu diliputi kabut dan berhawa dingin. Untuk menuju sekolah, para guru harus melewati hutan pinus.

Desa Simego merupakan stu dari 9 desa di Kecamatan Petungkriyono yang berada di sabuk pegunungan Dieng dan merupakan desa tertinggi di Kabupaten Pekalongan. Yakni terletak di ketinggian 2400 mdpl. Di desa tersebut hanya ada 2 sekolah dasar, yaitu SD Negeri 01 dan 02 Simego.

“Rata-rata guru yang mengajar di sana (Simego) harus menginap, karena hujan seringkali turun dan membahayakan bagi guru yang memang menggunakan sepeda motor,” tambahnya.

Sementara Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Petungkriyono Masyhudi mengaku, rata-rata guru yang mengajar di wilayah Petungkriyono merupakan pendatang. Jika dilaju, mereka harus menempuh jarak yang terlalu jauh dan harus menempuh waktu hampir 3 jam. Mereka rata-rata harus menginap di sekolah antara 5 sampai 6 hari.

Bahkan, tak sedikit guru yang berasal dari luar darah seperti Semarang dan Boyolali. Sementara salah satu kepala sekolah di wilayah tersebut ada yang berasal dari Semarang, namun dirinya memilih untuk pulang pergi Pekalongan-Semarang setiap hari.

“Banyak guru pendatang, dan memang harus menginap karena jarak ke pusat pemerintahan juga terlalu jauh. Setelah itu baru pulang ke rumah masing-masing dan dilanjut mengajar hari Senin,” pugkasnya. (wati/fid)

Related Posts:

Sering Hujan Jadi Kendala Petani Jemuran Padi

Padi milik petani Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono yang dijemur di jalan. / Foto: Purni/ JW Petungkriyono

Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Intensitas hujan yang cukup tinggi menjadi kendala bagi petani di Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan untuk menjemur hasil panennya, Rabu (24/1).

Petungkriyono merupakan wilayah pegunungan yang berada di Kabupaten Pekalongan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara. Warga setempat kerapkali memanfaatkan jalan Desa untuk menjemur padi mereka pasca panen.

Warga Kayupuring Inayah mengaku, dirinya menjemur padi miliknya di sepanjang jalan depan rumahnya. Namun lantaran sering diguyur hujan, padi yang ia jemur tak kunjung kering. Padahal cuaca cerah sangat dibutuhkan untuk menjemur hasil pertanian.

"Sudah beberapa hari saya menjemur padi tapi belum kering karena cuaca yang sering hujan. Kalaupun panas hanya setengah hari bisa menjemur padinya," katanya di sela-sela menjemur padi.

Hal serupa diungkapkan petani lain, Rumahan. Untuk menjemur padi di wilayah pegunungan ini bisa mencapai 2 minggu. Itu pun jika cuaca cerah. Namun jika sering turun hujan, petani setempat harus tetap bersabar.

"Saya sudah lama hampir dua minggu tapi belum selesai juga jemur ini padi. Paling hanya beberapa jam dapat cahaya matahari setelah itu ya  dimasukkan ke rumah takut kena hujan," ungkapnya.

Padi merupakan hasil pertanian pokok warga Desa Kayupuring. Setiap 6 bulan sekali petani setempat menanam padi.Jalan desa pun menjadi alternatif bagi petani untuk menjemur padi. Meskipun banyak kendaraan lalu lalang serta banyak padi yang terbawa oleh ban kendaraan, namun tidak membuat warga desa marah ataupun memindahkan jemurannya ketempat lain. (purni/fid)



Related Posts: