DFAT Australia Kunjungi Petungkriyono


 
Camat Petungkriyono Agus Dwi Nugroho menyampaikan perkembanhgan program Kompak. (Foto: Ria Rosita)

Petungkriyono
– Hubungan bilateral antara Indonesia dengan Australia sudah terjalin sejak lama. Meskipun kadang terjadi ketegangan satu sama lain,  namun sebagai tetangga keduanya selalu menjalin hubungan yang baik. Salah satunya dengan adanya program Kolaborasi Masyarakat untuk Pelayanan dan Kesejahteraan (Kompak) yang masuk di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan.


Program tersebut merupakan support dari Pemerintah Australia. Dengan harapan bisa memajukan dan memberi perubahan bagi daerah tersebut. Hal itu dikatakan perwakilan DFAT Kedutaan Australia, Astrid Kartika saat berkunjung di Petungkriyono, Jumat (2/3) kemarin.

"Tujuan kami datang ke sini adalah ingin berbagi pengalaman,  terkait kegiatan Kompak dalam peningkatan layanan dasar di Petungkriyono. Dan sejauh mana perubahan yang sudah terjadi," kata Astrid.

DFAT dan Tim Kompak bersama warga di Kecamatan Petungkriyono foto bersama usai kegiatan program. (Foto: Ria Rosita)

Sementara Camat Petungkriyono,  Agus Dwi Nugroho menuturkan, dengan adanya kegiatan dari Kompak pihaknya merasa pelayanan masyarakat lebih mudah. Dampak yang luar biasa sangat dirasakan, khususnya terkait sistem perencanaan yang ada di desa, yang kini mulai melibatkan masyarakat.

“Adanya program ini berimbas dengan peningkatan layanan di bidang layanan seperti posyandu, sekolah satu atap (satap),  dan pendataan administrasi kependudukan (adminduk),” tuturnya

Agus menjelaskan,  Program Kompak membawa manfaat luar biasa bagi desa maupun kecamatan. Di mana saat ini desa semakin banyak yang mengawasi, namun tidak ada pembinaan. Perubahan signifikan yang terjadi di Kecamatan Petungkriyono ialah terkait pelayanan dasar yang meliputi, pendidikan, kesehatan, dan adminduk.

"Di kecamatan petungkriyono ada 3 desa yang menjadi pilot project program ini, yaitu Yosorejo, Kayupuring dan Tlogohendro," jelasnya.

Kegiatan ini dihadiri juga oleh tim dari Kompak dan mitranya, PTPD, kepala desa pilot project,  kelompok selapanan, tim penyusun Rencana Kegiatan Pembangunan Desa (RKP-Desa),  dan jurnalis warga. (ria/fid)

Related Posts:

Masih Ditemukan KK Kadaluarsa di Desa Tlogohendro




Warga Desa Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono antusias menghadiri musdes di Balaidesa Tlogohendro. (Foto: Slamet Sugeng).

– Warga Diminta Secepatnya Mengurus

Tlogohendro – Kelengapan administrasi kependudukan (adminduk) sangat penting bagi warga sebagai identitas hukum. Di Desa Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan tercatat baru ada 569 anak usia 0-18 tahun yang sudah memiliki akta kelahiran. Semetara 19 anak masih dalam proses pembuatan identitas hukum tersebut.

Namun demikian, di desa yang terletak di wilayah tertinggi Kabupaten Pekalongan ini ditemukan sedikitnyab 89 kartu Keluarga (KK) yang sudah kadaluarsa. Hal itu terungkap setelah masing-masing perwakilan dusun melaporkan hasil musyawarah dusun (musdus) kepada pemerinta desanya.

Menanggapi hal itu, Kepala Desa Tlogohendro, Kaslam meminta warga agar lebih sadar adminduk dengan melengkapi data-data kependudukan supaya tidak terjadi kesalahan maupun hal-hal yang bersifat merugikan. Hal itu karena adminduk sangat penting bagi warga dalam mengurus apapun.

"Jika butuh apa-apa tentang aminduk datang saja ke Balaidesa, kita siap melayani" kata Kaslam, Rabu (28/2). 

Ia menjelaskan, musyawarah desa (musdes) Tlogohendro kali ini membahas tentang adminduk. Pasalnya, masih banyak warga yang enggan mengurus administrasi tersebut yang merupakan kewajiban bagi setiap warga. Oleh karenanya, perwakilan dusun mengecek warga mengenai kelengkapan adminduk mereka.

Dalam Musdes yang dipimpin langsung oleh Kuswandi selaku Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Kepala Desa Tlogohendro, serta Haryoko selaku Districk Fasilitator (DF) Forum Masyarakat Sipil (Formasi) ini, warga diharuskan segera mengurus administrasi tersebut. Sebagai daerah pilot project, Kecamatan Petungkriyono mendapatkan kemudahan untuk mendapatkan layanan dasar yang difasilitasi oleh Formasi.

“Secepatnya warga yang belum lengkap adminduknya agar segera mengurus,” pungkasnya. (slamet sugeng)

Related Posts:

Situs Sejarah di Petungkriyono Banyak Dikunjungi Wisatawan

Warga dan para pencinta alam tengah berkunjung di situs sejarah yang ada di Kecamatan Petungkriyono Kabupaen Pekalongan (Foto: Surowati)

Petungkriyono – Petungkriyono Kabupaten Pekalongan tak hanya menawarkan keasrian alamnya yang segar. Namun banyak potensi yang ada di kecamatan yang terletak di ujung Kabupaten Pekalongan ini. Situs sejarah peninggalan leluhur tak luput dari kunjungan para pencinta alam yang sengaja datang ke Petungkriyono.

Berbagai situs sejarah seperti Naga Pertala, Situs Gedong, Goa Candi, Gunung Kendalisada atau Pertapan Hanoman, Makam Syeh Prayantaka serta Syeh Prayanjiwa yang terletak di Dukuh Tinalum Desa Kayupuring. Semua situs itu kerapkali dikunjungi pendatang, baik dari Pekalongan maupun luar daerah.

Salah satu pendatang asal Kecamatan Doro yang juga merupakan salah satu guru di sekolah Petungkriyono Muhammad Saipulana mengaku, dirinya bersama rombongan dari  beberapa wilayah di Kabupaten Pekalongan merasa penasaran dengan keberadaan situs tersebut. Mereka ingin mengenal langsung dengan mendengar cerita para sesepuh setempat.

“Kalau dari sesepuh Kambangan berharap agar tetap dijaga karena merupakan salah satu cagar budaya yang harus dilestarikan. Kalau bisa agar tempat tersebut ditata supaya banyak pengunjung yang datang di lokasi ini,” katanya, Selasa (13/2).

Foto: Surowati


Sementara, Juru kunci Situs Gedong, Warsito menuturkan, sebagai pewaris sejarah, masyarakat diminta untuk tidak melupakan sejarah dengan cara menjaga peninggalan leluhur yang ada di wilayah Petungkriyono. Salah satunya tempat pertapan Semar yang ada di Gunung Gundul Kambangan-Rowo Desa Tlogopakis.

“Tempat ini bukan tempat bangsa Jin, setan, dan sebagainya. Tapi ini merupakan tempat leluhur, yaitu Mbah Semar Badranaya. Sehingga tidak perlu ditakuti, tapi jangan gunakan tempat ini sebagai tempat maksiat karena bisa menimbulkan malapetaka,” tuturnya.

Selain situs-situs tersebut, masih banyak situs yang tersebar di Kecamatan Petungkriyono, seperti Kleyang Tancep atau Kleyang Racap yang terletak di lereng Gunung Perbota, Sumur tua di puncak Gunung Ragajambangan dan Makam Mbah Lentreh yang berdasarkan cerita rakyat merupakan pengasuh dari anak Baruklinting.

Selain menjaga dan melestarikan warisan sejarah, Warsito juga meminta pengunjung untuk tidak menyalahgunakan tempat tersebut sebagai tempat untuk mencari peruntungan ataupun pesugihan. “Silakan datang ke sini, tapi jangan meminta kepada Mbah Semar. Mintalah kepada Allah bagi orang Islam,” pungkasnya. (wati/fid)



Related Posts:

Kelas Bapak Hamil Siap Dibentuk Tahun Ini

Camat Petungkriyono Kabupaten Pekalongan Agus Dwi Nugroho saat memaparkan upaya menekan AKI/AKB Di wilayahnya.

Petungkriyono - Berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan kasus angka kematian ibu dan anak (AKI/AKB) di Kabupaten Pekalongan. Di Kecamatan Petungkriyono, kini telah dibentuk  kelas  bapak hamil di masing-masing desa.

Kelas bapak hamil merupakan upaya untuk memberikan edukasi kepada para suami yang istrinya sedang hamil tentang kehamilan, mulai dari mulai mengandung hingga pasca persalinan. Kelas kecil ini akan diadakan di desa dan kecamatan.

Camat Petungkriyono, Agus Dwi Nugroho saat menghadiri monitoring puskesmas di balai Desa Yosorejo, mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Puskesmas Petungkriyono untuk menyiapkan modul pembelajarannya. Sehingga kagiatan ini bisa segera diluncurkan dalam waktu dekat.

"Dengan adanya kelas bapak hamil, semoga bisa membuat para suami menjadi lebih perhatian terhadap istrinya. Dan dapat bertindak cepat dalam mengambil keputusan. Demi keselamatan ibu dan bayinya," katanya, Selasa (6/2).

Sementara salah seorang dokter di Puskesmas Petungkriyono Budi Cahyono Ponco Utomo menuturkan, tahun 2017 Kecamatan Petungkriyono masih memiliki 3 kasus AKB. Sehingga harus ada upaya agar tidak terjadi kasus yang sama.

"Harapan kami dengan adanya kelas bapak hamil ini, bisa menurunkan kasus AKI/AKB di Kecamatan Petungkriyono. Sehingga butuh peran serta dari masyarakat untuk dapat mensukseskan program tersebut," pungkasnya. (ria/fid).

Related Posts:

Monitoring Satap, Upaya Tingkatkan Kualitas Pendidikan



Kegiatan monitoring Satap di Desa Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono (Foto: Ria Rosita)


Petungkriyono - Kegiatan diskusi monitoring yang difasilitasi oleh Forum Masyarakat Sipil (Formasi) merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas layanan dan mutu pendidikan Satu Atap (Satap) di Kecamatan  Petungkriyono. Hal itu dikatakan oleh DF Formasi, Hariyoko, di Balai Desa Tlogohendro, Selasa (30/1).

Dalam kegiatan ini, masayarakat diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi dan rekomendasi mengenai kondisi yang sebenarnya terjadi. Dengan berpedoman standar layanan pendidikan, diharapkan dapat memberi masukan yang membangun, untuk disampaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan.

Yoko menuturkan, dengan adanya kegiatan ini masyarakat bisa mengungkapkan segala permasalahan sesuai dengan kondisi sebenarya.

"Kegiatan ini merupakan rangkaian proses untuk menumbuhkan kepedulian terhadap pendidikan di Satap Tlogohendro. Sehingga dengan aktifnya masyarakat, tenaga pendidik, dan komite sekolah dapat menghasilkan diskusi yang maksimal, " tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Desa Tlogohendro, Kaslam mengatakan, peningkatan kualitas layanan dasar di bidang kesehatan, pendidikan, dan administrasi kependudukan (adminduk) selalu menjadi sorotan. Tidak bermaksud mengupas kejelekan, melainkan untuk mengajarkan masyarakat dalam berdiskusi dan memberi solusi yang tepat.

"Untuk itu mari kita bersama dapat berperan aktif dalam rangkaian kegiatan yang dilakukan hari ini. Agar anak-anak kita dapat mengenyam pendidikan yang lebih bagus dengan sarana yang memadai, " katanya. (ria/fid)

Related Posts:

Akta Kelahiran Warga Didata



Proses perekrutan pendata akta kelahiran di Kecamatan Petungkriyono (Foto: Purni)

Petungkriyono – Warga di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan akan dilakukan pendataan kepemilikan akta kelahiran. Pendataan ini akan dilakukan oleh Til LPPSP yang merupakan lembaga yang fokus terhadap isu administrasi kependudukan (adminduk).

Kecamatan yang terletak di selatan Kabupaten Pekalongan ini menjadi pilot project bagi lembaga itu untuk memastikan warga memiliki identitas hukum tersebut. Untuk memudahkan pendataan, mereka merekrut warga setempat yang akan bertugas mendata di setiap rumah warga.

Perwakilan LPPSP Jawa Tengah Haris Muzakky menyebutkan, pihaknya telah melakukan perekrutan kepada 8 warga untuk menjadi agen pendataan akta kelahiran di 8 desa yang ada di Petungkriyono,  Sabtu (27/01). Perekrutan dilakukan di Desa Yosorejo.

"Semua anak-anak usia 0-18 tahun dan yang belum menikah menjadi target kita dalam pembuatan akta kelahiran, Kita bantu secara gratis tis tanpa pungutan biaya," katanya saat memberikan pengarahan untuk pendataan ke desa.

Dari delapan orang yang menjadi agen akan mewakili delapan desa untuk melakukan pendataan akta kelahiran di desa Kayupuring, Kasimpar, Yosorejo, Tlogohendro, Gumelem, Tlogopakis, Songgodadi, dan Curug Muncar. 

Pada dasarnya, akta kelahiran sangat diperlukan untuk mengurus administrasi-administrasi tertentu, seperti pembuatan KIS, pelengkap persyaratan untuk sekolah, menikah, dan lain sebagainya. Persyaratan untuk membuat akta kelahiran pun tidaklah susah, karena hanya terdiri dari KK, KTP kedua orang tua, dan akta nikah kedua orang tua.

"Jika ada anak yang usia 14 tahun belum punya akta tapi sudah menikah maka tidak perlu kita fasilitasi karena sudah bukan termasuk anak-anak," pungkasnya. (Purni/fid)

Related Posts:

"Grow To Give" Bantu Perempuan Kayupuring Jadi Pengusaha



Perempuan Desa Kayupuring Kecamatan Petubgriyono foto bersama tim G to G usai kegiatan. (Foto: Purni)


 
Petungkriyono - Sebagai Perempuan Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan mayoritas sebagai pencari rumput dan penambang pasir tradisional. Aktivitas itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, mereka juga sebagai pembuat gula dan kopi yang dihasilkan dari kebunnya sendiri

Hal itu yang mendasari tim Grow to Give melatih perempuan di desa ini menjadi pengusaha serta pebisnis kopi dan gula. Salah satu produk yang akan segera diwujudkan yaitu gula semut dan kopi hitam yang dinamakan Kopi Welo dan Gula Welo.

"Semua ibu-ibu Desa Kayupuring adalah pengusaha dan pebisnis karena ibu-ibu mampu menghasilkan suatu produk dan menjualnya langsung ke pembeli" kata Titik Rusmiati sebagai chief executive officer di Grow to Give, kemarin.

Salah seorang penghasil gula aren Ratnah saat ditemui di rumahnya pada Senin (22/1) menyebutkan, kedatangan Grow to Give di desanya ialah untuk membantu dan melatih bagaimana menghasilkan gula semut yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran.

 "Sebelum Mbak Rosi  (Titik Rusmiati) datang membantu dan mengajari cara membuat gula semut, saya sudah pernah mencoba hanya saja saringan yang saya gunakan lubangnya agak besar tidak sekecil yang diajarkan mbak Rosi, sehingga mampu menghasilkan gula semut yang lebih halus,” katanya.

Dalam waktu satu bulan Grow to Give atau biasa disebut G to G melakukan pertemuan sekaligus pelatihan terhadap perempuan di desa ini. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, kelompok ibu-ibu pemproduksi dan kelompok pemuda yang didominasi oleh perempuan muda Desa Kayupuring.

Kelompok ibu-ibu adalah kelompok yang memproduksi gula dan kopi untuk diproses menjadi gula dan kopi yang berkualitas. Sementaea para pemuda bertugas memasarkan dan mempromosikan hasil produk perempuan pengusaha di Desa Kayupuring. (purni/fid)

Related Posts:

Cuaca Buruk Warga Dihimbau Waspada

Siswa saat berangkat ke sekolah dengan kondisi cuaca buruk. (Foto: Ria Rosita) 


Petungkriyono - Kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi memang perlu diwaspadai. Adanya angin kencang disertai hujan dan kabut tebal, menambah kesiagaan warga dalam melakukan aktivitas. Mereka diminta melaporkan segala kejadian yang mengindikasikan terjadinya bencana.

Masyarakat di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan diminta selalu waspada dan segera melaporkan setiap kejadian bencana. Siswa yang berangkat dan pulang sekolah pun diminta berhati-hati terhadap cuaca. Hal itu dikatakan Camat Petungkriyono, Agus Dwi Nugroho, Sabtu (28/1).

"Masing-masing desa mengaktifkan Posko Piket Penanggulangan Bencana Alam (PBA) dan selalu meningkatkan koordinasi dengan Muspika Petungkriyono," katanya.

Ia menambahkan, peran masyarakat untuk tanggap dan memberikan informasi sangatlah penting. Sehingga pihaknya bisa lebih cepat dalam melakukan setiap penanganan bencana alam.

" Kemudian untuk para siswa yang beraktivitas di sekolah juga harus selalu berhati-hati. bapak dan ibu guru diharapkan selalu waspada dan memberi pengarahan kepada siswa terkait kondisi cuaca. Agar siswa selalu merasa aman ketika melakukan perjalanan ke sekolah maupun ketika pulang ke rumah," katanya. (ria/fid)

Related Posts:

Perjuangan Guru di Negeri Atas Awan


Wahyu Hendro Wijayanto, 31, tengah mengajar di SD Negeri 02 Simego Kecamatan Petungkriyono. (Foto: wati)
Petungkriyono – Wahyu Hendro Wijayanto, 31, seorang guru di SD Negeri 02 Simego Kecamatan Petungkriyono harus berjuang lebih keras untuk mengajar di sekolah yang letaknya di dataran tinggi Pekalongan. Guru asal Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan ini harus menempuh jarak lebih dari 52 kilometer untuk sampai di sekolah, tempat ia mengajar.

Ia harus berjuang lebih keras untuk menempuh jalanan dengan medan yang cukup terjal. Dirinya harus lebih berhati-hati saat kondisi hujan. Di wilayah ini, hampir setiap hari turun hujan saat menjelang siang. Kekhawatiran pun sering menjadi kewaspadaan pohon tumbang yang sewaktu-waktu mengancam dirinya.

“Harus berhati-hati saat kondisi hujan. Karena sewaktu-waktu pohon di sepanjang jalan bisa tumbang,” katanya, Minggu (27/1).

Jika terjadi pohon tumbang, para guru harus saling bergotong royong untuk mengevakuasi pohon itu agar bisa dilewati kendaraan bermotor. Mereka pun harus rela terlambat untuk tiba di sekolah. Wilayah Petungkriyono merupakan wilayah hutan lindung di Kabupaten Pekalongan, sehingga hutan di wilayah itu masih alami.

Wahyu sudah mengajar di Kecamatan Petungkriyono semenjak 10 tahun silam, yakni berawal dari tahun 2006. Bapak dari satu anak ini harus sering menginap di sekolah tempatnya mengajar mengingat jarak ke rumah yang cukup jauh. Rata-rata sekolah di wilayah ini menyediakan kamar tidur bagi guru yang terpaksa harus menginap. Baik yang sudah berstatus PNS maupun honorer.

Desa Simego, Kecamatan Petungkriyono merupakan salah satu desa yang berada di paling ujung selatan Kabupaten Pekalongan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara. Daerah ini biasa juga disebut negeri di atas awan karena setiap hari selalu diliputi kabut dan berhawa dingin. Untuk menuju sekolah, para guru harus melewati hutan pinus.

Desa Simego merupakan stu dari 9 desa di Kecamatan Petungkriyono yang berada di sabuk pegunungan Dieng dan merupakan desa tertinggi di Kabupaten Pekalongan. Yakni terletak di ketinggian 2400 mdpl. Di desa tersebut hanya ada 2 sekolah dasar, yaitu SD Negeri 01 dan 02 Simego.

“Rata-rata guru yang mengajar di sana (Simego) harus menginap, karena hujan seringkali turun dan membahayakan bagi guru yang memang menggunakan sepeda motor,” tambahnya.

Sementara Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Petungkriyono Masyhudi mengaku, rata-rata guru yang mengajar di wilayah Petungkriyono merupakan pendatang. Jika dilaju, mereka harus menempuh jarak yang terlalu jauh dan harus menempuh waktu hampir 3 jam. Mereka rata-rata harus menginap di sekolah antara 5 sampai 6 hari.

Bahkan, tak sedikit guru yang berasal dari luar darah seperti Semarang dan Boyolali. Sementara salah satu kepala sekolah di wilayah tersebut ada yang berasal dari Semarang, namun dirinya memilih untuk pulang pergi Pekalongan-Semarang setiap hari.

“Banyak guru pendatang, dan memang harus menginap karena jarak ke pusat pemerintahan juga terlalu jauh. Setelah itu baru pulang ke rumah masing-masing dan dilanjut mengajar hari Senin,” pugkasnya. (wati/fid)

Related Posts:

Sering Hujan Jadi Kendala Petani Jemuran Padi

Padi milik petani Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono yang dijemur di jalan. / Foto: Purni/ JW Petungkriyono

Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Intensitas hujan yang cukup tinggi menjadi kendala bagi petani di Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan untuk menjemur hasil panennya, Rabu (24/1).

Petungkriyono merupakan wilayah pegunungan yang berada di Kabupaten Pekalongan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara. Warga setempat kerapkali memanfaatkan jalan Desa untuk menjemur padi mereka pasca panen.

Warga Kayupuring Inayah mengaku, dirinya menjemur padi miliknya di sepanjang jalan depan rumahnya. Namun lantaran sering diguyur hujan, padi yang ia jemur tak kunjung kering. Padahal cuaca cerah sangat dibutuhkan untuk menjemur hasil pertanian.

"Sudah beberapa hari saya menjemur padi tapi belum kering karena cuaca yang sering hujan. Kalaupun panas hanya setengah hari bisa menjemur padinya," katanya di sela-sela menjemur padi.

Hal serupa diungkapkan petani lain, Rumahan. Untuk menjemur padi di wilayah pegunungan ini bisa mencapai 2 minggu. Itu pun jika cuaca cerah. Namun jika sering turun hujan, petani setempat harus tetap bersabar.

"Saya sudah lama hampir dua minggu tapi belum selesai juga jemur ini padi. Paling hanya beberapa jam dapat cahaya matahari setelah itu ya  dimasukkan ke rumah takut kena hujan," ungkapnya.

Padi merupakan hasil pertanian pokok warga Desa Kayupuring. Setiap 6 bulan sekali petani setempat menanam padi.Jalan desa pun menjadi alternatif bagi petani untuk menjemur padi. Meskipun banyak kendaraan lalu lalang serta banyak padi yang terbawa oleh ban kendaraan, namun tidak membuat warga desa marah ataupun memindahkan jemurannya ketempat lain. (purni/fid)



Related Posts: