Perempuan Harus Dilibatkan dalam Pembangunan Desa

Sumber foto: kompak.or.id
Menjadi agen perubahan bukan berarti berproses tanpa tantangan. Terlebih, seorang perempuan yang memang hingga saat ini belum sepenuhnya mendapatkan hak bersuara dalam pembangunan di tingkat desa. Seorang ibu rumah tangga, Ria Rosita, perempuan asal Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan ini menceritakan bagaimana seharusnya perempuan dilibatkan dalam pembangunan di tingkat desa.

Laporan: Ria Rosita

Petungkriyono - Berawal dari keterlibatan saya bargabung bersama Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) menjadi jurnalis warga Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, ketertarikan saya terhadap dunia jurnalistik menimbulkan rasa penasaran dan selalu mempelajari hal baru. Saya mencoba membuka dan membaca lagi catatan lama tentang kepenulisan.

Menjadi jurnalis warga mengharuskan saya untuk mengikuti berbagai kegiatan di desa. Salah satu kegiatan baru yang rutin dilakukan adalah kelompok selapanan. Kegiatan selapanan ini difasilitasi oleh Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Jawa Tengah.

Dalam kegiatan selapanan, dihadirkan para perwakilan masing-masing dusun Desa Yosorejo. Kemudian masyarakat diarahkan bagaimana cara menyampaikan aspirasi, serta memberikan solusi sesuai dengan kondisi desa. Khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan administrasi kependudukan (adminduk).

Dari sinilah saya mulai ikut berperan lebih dalam. Mulai berani mengangkat isu yang menyangkut permasalahan di Desa Yosorejo ke dalam tulisan. Aktifnya saya dalam tim selapanan membuat pemerintah desa memasukan saya dalam tim penyusun Rencana Kegiatan Pembangunan Desa (RKPDes) tahun 2018. Karena dalam pembentukan tim penyusun harus melibatkan kelompok perempuan.

Perjalanan masuk dalam tim penyusun tidak sepenuhnya berjalan mulus. Karena masuknya saya sebagai satu-satunya perempuan dalam tim masih dipandang sebelah mata dengan minimnya pengalaman dan keterlibatan saya dalam bidang pemerintahan desa.

Ketika saya mengungkapkan permasalahan selalu mendapatkan tekanan. Apa yang saya laporkan selalu dianggap tidak penting. Namun tekad kuat selalu saya pertahankan, karena keinginan akan adanya perubahan. Hingga akhirnya pelan-pelan saya membuktikan, bahwa perempuan juga bisa berperan dalam pembangunan desa.

Dimana dari pengalaman sebagai ibu rumah tangga, banyak berkumpul dan diskusi di kelompok selapanan yang mayoritas adalah perempuan, serta belajar memberikan solusi. Ternyata menjadi cara efektif dalam melakukan prioritas pembangunan tanpa harus menghilangkan program yang sudah dibuat oleh pemerintah desa.

Related Posts:

3 Responses to "Perempuan Harus Dilibatkan dalam Pembangunan Desa"