20 Warga Dari 9 Desa Ikuti Latihan Desain Grafis

Puluhan warga di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan tengah mengikuti pelatihan desain grafis. / Foto: Surowati
Petungkriyono (suarapetungkriyono.com) - Sebanyak 20 warga yang sebagian besar masih muda-muda dan usia sekolah yang terdiri dari 9 desa di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan antusias mengikuti les komputer, Senin (27/11).

Latihan kali ini bersamaan dengan pembukaan program desain grafis di Lembaga Kursus dan Pelatihan) LKP Rimba Pelangi Petungkriyono, tepatnya di Dukuh Sipetung Desa Tlogopakis. Launching ini juga dihadiri Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (UPT Dindikbud) Petungkriyono.

Kabid Paudni Dindikbud M. Abdillah Abadi mengatakan, Petungkriyono ibarat mutiara yang perlu diasah. Dengan adanya program desain grafis dapat melatih masyarakat agar memiliki ketrampilan di bidang informasi dan teknologi (IT).

"Karena mengingat perkembangn zaman tehnologi semakin canggih, dengan adanya les komputer program desain grafis yang mencangkup kemampuan kognitif dan ketrampilan visual diharapkan warga khususnya pemuda Petungkriyono lebih berpontensi agar menghasilkan tangan-tangan dan pikiran yang kreatif," katanya (27/11).

Ketua LKP Rimba Pelangi Siwanto menuturkan, pendidikan di Petungkriyono sudah saatnya untuk bangkit, khususnya dalam pendidikan nonformal.

"LKP Rimba Pelangi hadir memberikan warna tersendiri dengan alternatif mengadakan pelatihan komputer program desain grafis secara gratis yang dibiayai oleh Direktorat Pelatihan dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud RI," tuturnya.

Siswanto menambahkan, pemeritah tetap mendukung program ini karena masih banyaknya warga petungkriyono  yang ingin mengikuti pelatihan komputer desain grafis.

"Ke dapanya lebih  sukses dan banyak bermanfaat untuk masyarakat tutur Suseno salah satu pengelola LKP Rimba Pelangi Petungkriyono," tandasnya. (wati/fid)

Related Posts:

Media Kampanye sebagai Maghnet Kepemilikan Akte

Tim Puskapa tengah memaparkan media kampanye untuk percepatan kepemilikan akta kelahiran maupun akta kematian di Kajen Kabupaten Pekalongan. / Foto: Ria Rosita

Kajen (suarapetungkriyono.com) - Kurangnya kesadaran masyarakat mengenai kepemilikan administrasi kependudukan (adminduk), memunculkan beberapa terobosan dalam menyampaikan informasi.

Untuk itu perlu adanya diskusi uji coba media kampanye, untuk percepatan kepemilikan identitas hukum yang nantinya dapat menampilkan informasi yang lebih menarik dan mudah dibaca masyarakat. Sehingga dapat menjadi magnet agar lebih banyak masyarakat yang peduli tentang kepemilikan akta kelahiran atau kematian.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pekalongan, Risnoto mengaku, pihaknya selalu melakukan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Pihaknya selalu memberikan layanan yang membahagiakan, yaitu dengan selalu memudahkan segala macam kepengurusan adminduk.

"Adanya keterlibatan Kompak dalam kepengurusan adminduk, semoga bisa mengoptimalkan segala bentuk pelayanan. Serta menjadi koreksi kami agar bisa lebih baik lagi dalam melakukan pelayanan ", katanya di RM Barokah 2 Kajen, Senin (27/11).

Fasilitator Pusat Kajian Perlindungan Anak Indonesia (Puskapa), Rama menuturkan, budaya di masyarakat, ketika akan menyampaikan informasi dilakukan dengan bercerita.

Sehingga menurutnya harus ada produk pendukung yang dimiliki, dalam kampanye kepemilikan akta kelahiran maupun akta kematian, yaitu dengan dibuatkannya brosur atau buku panduan mengenai manfaat atau keutamaan ketika kita memiliki akte tersebut.

"Sehingga nantinya masyarakat akan lebih mudah dan peduli dalam pembuatan akte tersebut," tuturnya.

Rama menambahkan, dengan adanya diskusi ini maka diharapkan, sebagai agen sosialisasi, dapat memberikan masukan terhadap brosur atau buku panduan yang sudah disediakan. Serta ke depan dapat memberikan informasi yang jelas dan mendalam terhadap mesyarakat.

"Di mana nantinya masyarakat dapat memperoleh banyak kemudahan dalam kepengurusan. Dan data yang diperoleh Dinas Dukcapil bisa dimanfaatkan oleh masyarakat," pungkasnya. (ria/fid)

Related Posts:

Slamet, Penyandang Disabilitas Lakukan Perekaman KTP-el

Slamet Sunanto (20) saat melakukan perekaman KTP-el di Desa Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan / Foto: Slamet Sugeng

Tlogohendro (suarapetungkriyono.com) - Dari ratusan warga yang melakukan perekaman KTP elektronik (KTP-el) di Desa Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, Slamet Sunanto (20), penyandang disabilitas asal desa tersebut juga antusias melakukan perekaman administrasi kependudukan ini.

Dia digendong dari rumah ke kantor kelurahan oleh ayahnya, Sanusi. Slamet juga didampingi langsung oleh Kepala Desa Tlogohendro, Kaslam beserta perangkat desa pada saat melakukan perekaman KTP-el.

"Yang difabel saja semangat untuk melengkapi data kependudukan, apa lagi yang sehat dan tidak ada keterbatasan, itu harusnya punya semangat yang lebih," ujar Kaslam kepada warganya saat mendampingi perekaman KTP-el (23/11).

Dia mengungkapkan, Slamet sangat antusias walaupun sempat merasa sedikit takut karena jarang ia keluar rumah dan melihat orang banyak. Namun ia harus tetap melakukan perekaman KTP-el dengan baik.

Kesempatan kepemilikan identitas kependudukan ini dipermudah oleh Petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) di Kecamatan Petungkriyono. Disdukcapil melakukan jemput bola di desa-desa.

Kaslam pun menghimbau kepada warga yang menghadiri kunjungan Petugas Disdukcapil di desanya. Walaupun slamet tidak sama dengan yang lainnya, tidak bisa berjalan dan sulit untuk bicara. Namun Slamet juga warga Indonesia yang harus memiliki KTP seperti warga yang lain.

"Slamet dibantu perangkat desa dan petugas dari kecamatan," pungkasnya. (Slamet/fid)



Related Posts:

Perempuan Harus Dilibatkan dalam Pembangunan Desa

Sumber foto: kompak.or.id
Menjadi agen perubahan bukan berarti berproses tanpa tantangan. Terlebih, seorang perempuan yang memang hingga saat ini belum sepenuhnya mendapatkan hak bersuara dalam pembangunan di tingkat desa. Seorang ibu rumah tangga, Ria Rosita, perempuan asal Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan ini menceritakan bagaimana seharusnya perempuan dilibatkan dalam pembangunan di tingkat desa.

Laporan: Ria Rosita

Petungkriyono - Berawal dari keterlibatan saya bargabung bersama Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) menjadi jurnalis warga Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, ketertarikan saya terhadap dunia jurnalistik menimbulkan rasa penasaran dan selalu mempelajari hal baru. Saya mencoba membuka dan membaca lagi catatan lama tentang kepenulisan.

Menjadi jurnalis warga mengharuskan saya untuk mengikuti berbagai kegiatan di desa. Salah satu kegiatan baru yang rutin dilakukan adalah kelompok selapanan. Kegiatan selapanan ini difasilitasi oleh Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Jawa Tengah.

Dalam kegiatan selapanan, dihadirkan para perwakilan masing-masing dusun Desa Yosorejo. Kemudian masyarakat diarahkan bagaimana cara menyampaikan aspirasi, serta memberikan solusi sesuai dengan kondisi desa. Khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan administrasi kependudukan (adminduk).

Dari sinilah saya mulai ikut berperan lebih dalam. Mulai berani mengangkat isu yang menyangkut permasalahan di Desa Yosorejo ke dalam tulisan. Aktifnya saya dalam tim selapanan membuat pemerintah desa memasukan saya dalam tim penyusun Rencana Kegiatan Pembangunan Desa (RKPDes) tahun 2018. Karena dalam pembentukan tim penyusun harus melibatkan kelompok perempuan.

Perjalanan masuk dalam tim penyusun tidak sepenuhnya berjalan mulus. Karena masuknya saya sebagai satu-satunya perempuan dalam tim masih dipandang sebelah mata dengan minimnya pengalaman dan keterlibatan saya dalam bidang pemerintahan desa.

Ketika saya mengungkapkan permasalahan selalu mendapatkan tekanan. Apa yang saya laporkan selalu dianggap tidak penting. Namun tekad kuat selalu saya pertahankan, karena keinginan akan adanya perubahan. Hingga akhirnya pelan-pelan saya membuktikan, bahwa perempuan juga bisa berperan dalam pembangunan desa.

Dimana dari pengalaman sebagai ibu rumah tangga, banyak berkumpul dan diskusi di kelompok selapanan yang mayoritas adalah perempuan, serta belajar memberikan solusi. Ternyata menjadi cara efektif dalam melakukan prioritas pembangunan tanpa harus menghilangkan program yang sudah dibuat oleh pemerintah desa.

Related Posts:

JW Harus Kuasai Teknik Peliputan dan Penulisan

Pemateri workshop jurnalis warga tengah memaparkan kode etik jurnalistik di aula Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan

Petungkriyono - Dengan diadakannya workshop jurnalis warga (JW) yang bertempat di aula Kecamatan Petungkriono Kabupaten Pekalongan pada 17-18 November kemarin, Bahrul Ulum selaku Redaktur JW sekaligus pengisi acara tersebut berharap kegiatan ini bisa membekali JW, khususnya dalam meliput berita.

Bahrul mengatakan, JW harus benar-benar menguasai teknik dalam membuat berita, baik itu teknik peliputan maupun teknik penulisan.

"Modal utama seorang jurnalis warga dalam meliput berita adalah menguasai teknik peliputan dan penulisannya," katanya.

Bahrul juga mengingatkan, sebelum meliput berita, JW harus mempersiapkan hal-hal yang diperlukan dalam meliput berita, mulai dari menyiapkan peralatan wawancara, mengetahui isu yang berkembang, menyiapkan materi wawancara dan lain sebagainya.

Adanya pembekalan teknik peliputan dan penulisan ini di harapkan dapat memudahkan JW dalam membuat berita. Hal itu pun dikatakan Donipah, salah satu JW yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Dirinya menuturkan, dengan menguasai teknik peliputan lebih memudahkanya dalam membuat berita.

"Sangat membantu dan memudahkan dalam membuat berita," tuturnya. (Satrio/fid)

Related Posts:

Reportase JW harus Berdampak Kuat bagi Warga

Camat Petungkriyono bersama pemateri workshop jurnalis warga di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan

Petungkriyono - Di era modern ini, siapa pun bisa memberikan sebuah informasi, sekalipun hanya mengandalkan kekuatan kamera di smartphone, bisa memberikan sebuah berita agar bisa diketahui oleh masyarakat.

Hal itu diungkapkan Bahrul Ulum selaku narasumber di Workshop Jurnalis Warga yang dihadiri oleh Jurnalis Warga (JW) dari tiga desa yaitu Yosorejo, Kayupuring dan Tlogohendro serta satu desa replikasi yaitu Kasimpar. Kegiatan ini berlangsung di aula Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Sabtu (18/11) kemarin.

Bahrul mengatakan, dengan adanya JW memudahkan warga, khususnya di Kecamatan Petungkriyono agar lebih cepat mengetahui kejadian di sekitarnya.

"Peliputan berita yang diinformasikan oleh JW dengan harapan  masyarakat lebih terbantu dalam mengetahui kejadian di sekitar dengan mudah dan cepat. Mengingat infrastruktur yang ada di Petungkriyono dengan jarak antar desa lumayan jauh," katanya.

Aktivitas JW dapat berperan aktif dalam proses pengumpulan, melaporkan menganalisis dan menyebarluaskan berita dan informasi yang menarik, inspiratif yang dikemas secara santai agar mudah dipahami oleh semua lapisan masyrakat.

Lebih lanjut Bahrul menjelaskan, suara masyarakat bisa didengar dan diketahui oleh masyarakat lainnya dengan cepat karena adanya jurnalis warga. Pemberitaan juga harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Liputan juga harus dapat dipertangungjawabkan dengan lebih memperhatikan pada kode etik jurnalistik. dengan begitu apa saja yang diberitakan akan berdampak positif dan bermanfaat bagi masyarkat," pungkasnya. (Wati)

Related Posts:

Camat Dukung JW di Petungkriyono

Koordinator Jurnalis Warga Kabupaten Pekalongan tengah memberikan sambutan dalam acara workshop Jurnalis Warga di Kecamatan Petungkriyono. / Foto: Ratih Ayu N.

Petungkriyono - Workshop jurnalis warga (JW) di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan diikuti oleh tiga desa pilot project dan satu desa replikasi. Tiga desa tersebut ialah Desa Kayupuring, Yosorejo, dan Tlogohendro. Sementara desa replikasi ialah Kasimpar.

Dalam kegiatan yang diadakan selama 2 hari ini, Camat Petungkriyono Agus Dwi Nugroho sangat mendukung program jurnalis warga, karena dianggap sangat membantu.

"Jurnalis Warga di Petungkriyono sangat membantu nengeksplor segala kegiatan yang ada di masyarakat," katanya saat membuka acara workshop, Jumat (17/11).

Workshop JW yang berada di naungan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) dan didukung oleh The Asia Foundation serta Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (Kompak) ini diikuti oleh JW dari tiga desa pilot project dan satu desa replikasi.

Antusias peserta yang mengikuti kegiatan tersebut juga semakin membara, setelah ada dukungan dari pihak kecamatan untuk selalu menerbitkan berita-berita aktual, update, dan terpercaya.

Melalui workshop ini pihaknya berharap, para JW agar selalu meningkatkan kualitas berita, serta aktif dalam menerbitkan berita-berita penting.

"Tak lupa sebelum menerbitkan semua berita itu mohon untuk difilter lagi, agar tidak ada pihak yang dirugikan," pungkasnya. (ratih/fid)


Related Posts:

Camat Petungkriono Inisiasi Lomba SID

Kegiatan workshop jurnalis warga yang dibuka oleh Camat Petungkriyono, Agus Dwi Nugroho. / Foto: Satrio

Petungkriyono - Melihat perkembangan jurnalis warga (JW) yang ada di Kecamatan Petungkriono Kabupaten Pekalongan yang semakin aktif dan giat dalam mengulik berita, Camat Petungkriyono Agus Dwi Nugroho menyatakan mendukung penuh kegiatan jurnalis warga.


Hal itu diungkapkan saat membuka workshop jurnalis warga yang merupakan program dari Perhimpunan Perkembangan Media Nusantara (PPMN) di 3 desa pilot project di wilayahnya.

"Jurnalis warga memang dibutuhkan di Petungkriono, khusunya untuk menginformasikan seputar kejadian, potensi, pendidikan dan lain sebagainya yang terjadi di desa masing-masing agar lebih cepat diketahui pemerintah kecamatan," ungkapnya, Jumat (17/11).

Dalam kegiatan peningkatan kapasitas JW seperti mentoring, workshop,dan kegiatan lainnya, akan membuat para jurnalis warga semakin memiliki kapasitas dalam menulis berita.

Bahkan, dalam sambutannya, pihaknya menginisiasi lomba Sistem Informasi Desa (SID) antardesa di Petungkriyono.

"Mudah-mudahan dengan diadakanya lomba SID ini dapat mendongkrak produktivitas JW dalam membuat berita sesuai fakta yang terjadi di desa masing-masing," tambahnya.

Salah satu peserta workshop sekaligus JW dari Desa Kayupuring  kuswoto mengungkapkan, dengan adanya dukungan dari pihak kecamatan, JW merasa termotivasi dan semangat dalam membuat berita.

"Saya sangat senang dan lebih semangat membuat berita,".pungkasnya. (Satrio/fid)

Related Posts:

Casmudi, Pengrajin Aksesoris di Petungkriyono

Casmudi (27) pengrajin aksesoris asal Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono nampak memamerkan karyanya.


Yosorejo (suarapetungkriyono.com) - Seiring berkembangnya zaman, aksesoris menjadi barang trend di kalangan pemuda, demi sebuah penampilan yang fashionable. Peluang ini diambil oleh salah satu Warga Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan Casmudi (27) yang meraup omset jutaan rupiah per bulan.

Kemajuan teknologi pun di manfaatkan Casmudi untuk membeli bahan-bahan yang akan dibuat kerajinan. Dia membeli bahan ini di Surabaya melalui online, seperti pita satin, mutiara, lem, kawat, renda, kain, dan diamon. Melalui kreativitas tangannya, semua bahan itu disulap menjadi berbagai macam kerajinan yang bernilai tinggi.

"Untuk membuat kerajinan aksesoris dan mahar pernikahan, dalam satu hari bisa menghasilkan kerajinan dengan harga berkisar Rp 50 sampai Rp 70 ribu," katanya, Jumat (17/11).

Sebagai pekerja di warung sembako di desanya, Casmudi membuat barang kerajinan ini di sela-sela kesibukannya. Selain sebuah hobi, membuat kerajinan ini bisa menjadikan penghasilannya bertambah.

"Bagi yang ingin pesan, bisa hubungi melalui pesan singkat ataupun pesan online," tambahnya.

Salah satu konsumen, Agus Santoso mengatakan, dirinya sering memesan kerajinan yang dibuat oleh Casmudi. Karena selain harganya terjangkau dan hasilnya sangat bagus, juga di desa ini baru ada satu pengrajin aksesoris dan mahar perkawinan.

"Selain dari Yosorejo, banyak warga di desa lain yang memesan kerajinan ini. Karena pemasarannya lewat media sosial, jadi banyak yang tau," ungkapnya. (Winarni/fid)


Related Posts:

35 RTLH Disalurkan di Yosorejo

Rumah salah satu warga Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono yang mendapatkan bantuan RTLH.

Yosorejo – Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan mendapat jatah bantuan propinsi dan gubernur (Bangub) melalui program rumah tidak layak huni (RTLH) sebanak 35 unit. Masing-masing mendapatkan Rp. 10 juta

Bantuan ini diberikan tidak berupa uang, melainkan material yang akan langsung diberikan kepada peneima. Di Dukuh Dranan desa setempat, ada 6 peneima bantuan RTLH yang bendapat bantuan provinsi, yakni Wasjuri, Kustini, Tutur, Delajat, Wases, dan Dawud.

“Ada enam penerima yang menerima RTLH dari bantuan provinsi,” ungkap Ketua Kelompok Masyarakat desa Yosorejo, Kardi (17/11).

Sementara, salah satu penerima RTLH Wasjuri mengatakan, sebelumnya dirinya belum bisa merehab rumahnya karena terkendala faktor ekonomi. Namun setelah mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa material bangunan, Wasjuri baru bisa merehab rumahnya.

“Saya bersyukur dengan adanya bantuan dari pemerintah yang berupa material. Ini sangat meringankan kami yang semulanya tidak bisa merehab rumah. Dengan adanya RTLH, saya bisa merehab rumah,” ungkap Wasjuri.

Kepala Desa Yosorejo, Darnoto mengatakan, untuk RTLH Bangub di Dukuh Dranan mendapatkan 3 unit. Penerima adalah, Untung Warsino, Tarmo, dan Ta’atn yang sudah dikerjakan dari 13 November kemarin.

“Pengerjaan sudah dimulai tanggal 13 November kemarin,” pungkasnya. (dewi/fid)


Related Posts:

Formasi Pekalongan Monitoring Pelayanan Posyandu di Desa Kayupuring

Suasana Diskusi Monitoring Pelayanan Posyandu bersama Formasi - Foto Purni Kayupuring

Kayupuring - (suarapetungkriyono.com) - Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Kabupaten Pekalongan beserta tim selapanan Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan pada Jum'at (17/17) melaksanaka monitoring kolaboratif pelayanan posyandu. 

Monitoring ini ditujukan untuk memberikan informasi tentang sebab dan akibat dari suatu kebijakan yang sedang dilaksanakan. Monitoring diperlukan agar kesalahan awal dapat segera diketahui dan dapat dilakukan tindakan perbaikan,sehingga mengurangi resiko yang lebih besar.

District Facilitator Formasi Pekalongan Haryoko mengatakan monitoring ini tidak bermaksud menjatuhkan pihak posyandu maupun orang-orang yang terkait di dalamnya. " Kegiatan monitoring ini diharapkan tidak menimbulkan kesan negatif dan tanggapan yang kurang baik dari berbagai pihak, karena tujuannya disini justru membantu mengungkapkan keinginan masyarakat atau impian masyarakat mengenai pelayanan Posyandu," katanya. 

Sementara itu, salah seorang peserta Faroyah (25) berharap agar posyandu yang mempunyai tempat tersendiri yang dapat digunakan untuk semua kegiatan Posyandu. " Supaya anak balita saat ditimbang merasa senang dan tidak menolak untuk ditimbang, jadi kami menginginkan alat penimbang seperti ayunan jadi membuat balita senang untuk ditimbang," ungkapnya di tempat kegiatan.

Acara monitoring dihadiri 20 orang yang terdiri dari ibu-ibu dengan anak balita, kader posyandu, dan bidan desa. Semua peserta ikut berpartisipasi aktif, pasalnya data yang dibutuhkan dalam monitoring yang terdiri dari kartu penilaian dan ciri-ciri pelayanan Posyandu yang baik didapatkan dari ungkapan dan usulan dari peserta. (Purni/Jw Kayupuring editor Fid)

Related Posts:

Rakor Penguatan GTKLA di Petungkriyono

Muspika Petungkriyono Kabupaten Pekalongan saat menggelar rapat koordinasi terkait penguatan GTKLA bersama PMD P3A dan PPKB Kabupaten Pekalongan. / Foto: Ria Rosita

Petungkriyono (suarapetungkriyono.com) - Camat Petungkriyono Kabupaten Pekalongan Agus Purwanto mengungkapkan, keberadaan tim Gugus Tugas Kecamatan Layak Anak (GTKLA) Petungkriyono sudah ada sejak tahun 2012 dan sudah ada SK timnya, namun belum efektif pada implementasinya.

"Ada SK, tapi belum ada implementasi, kebutuhan yang harusnya dipenuhi tapi kondisinya terbatas baru pada aspek kelembagaan," ungkapnya di hadapan GTKLA Petungkriyono di aula kecamatan (16/11).

Dia menambahkan, anak harus berada di posisi nyaman dan aman. Anak kadang tidak bisa merasakan tidak aman saat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

"Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak dalam kandungan, hak anak bagian dari hak asasi manusia yang wajib dilindungi, dipenuhi oleh orangtua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara," tambahnya.

Sementara itu, Kabid PPPA Dinas Pemberdayaan Desa, Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PMD P3A dan PPKB), Arofah menjelaskan, penguatan kelembagaan ini untuk memberikan bekal bagi tim GTKLA dan memanfaatkan dana desa agar bisa untuk kepentingan terbaik bagi anak.

"Prosedur untuk pengalokasian tetap ikuti regulasi yang ada. Keterbatasan SKPD lebih banyak pada rapat koordinasi dan monitoring," jelasnya.

Narasumber penguatan kelembagaan GTKLA Bahrul Ulum selaku Fasilitator KLA memaparkan, jika GTKLA hanya sebagai simbol, dikhawatirkan nasib pemenuhan hak anak tidaklah cepat teratasi.

"Tim GTKLA Petungkriyono harus mampu dan mau menjadi contoh untuk akselerasi model implementasi KLA. Memastikan semua anak usia 0-18 tahun memiliki akta kelahiran, anak yang dilahirkan di layanan kesehatan, ada puskesmas ramah anak, ada sekolah ramah anak, ada data pilah anak, semua desa sudah terbentuk Gugus Tugas Desa Layak Anak, semua desa memiliki forum anak desa," paparnya.

Ulum berharap, agar dalam waktu dekat ini semua komponen yang terlibat pada GTKLA di petungkriyono untuk bertindak holistik jangan sampai kesannya parsial dalam pelaksanaan KLA di wilayah kerjanya. (ria/fid)

Related Posts:

Warga Kayupuring Antusias Perekaman KTP Elektronik

Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Petugas Adminduk Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan Margo mengatakan, per januari 2016, warga yang wajib melaksanakan perekaman KTP Elektornik (KTP-EL) berjumlah 80 orang, namun dalam perjalananya hingga oktober 2017, baru ada 32 orang telah melaksanakan perekaman, 5 orang meninggal dunia dan 2 orang pindah domisi. " Selama kegiatan jemput bola yang di adakan, terdapat masyarakat yang belum terdaftar namun sudah memenuhi syarat perekaman KTP-EL 25 orang," katanya.
Suasana Perekaman KTP Elektronik di Desa Kayupuring - Foto Kuswoto

Masih menurut margo, kegiatan jemput bola bertujuan agar semua masyarakat untuk mengurus dokumen perubahan status meskipun disabilitas maupun sudah lanjut usia apalagi dari pemerintah desa bersedia untuk menjemput pihak yang bersangkutan.

Sementara itu, salah satu warga desa kayupuring Pranoto (35) yang bekerja sebagai buruh tani dan berkebun mengatakan, karena alasan tidak punya sepeda motor ahirnya enggan untuk mengurus dokumen perubahan status. "Apalagi saya yang sehari-harinya hanya bekerja di sawah dan berkebun jadi jarang menggunakan KTP," ungkapkan pranoto sambil tersenyum.

Berbeda dengan pemuda kayupuring Sukron (18) yang sedang menunggu antrian perekaman KTP-EL mengatakan ,KTP-EL sangatlah penting apalagi sekarang mau mengurus apapun harus mempunyai KTP-EL. " Dengan adanya percepatan perekaman KTP-EL, saya sangat terbantu sekali mengingat di bulan ini saya akan mendaftar sekolah paket c atau setara dengan SMA yang di dalamnya syarat tersebut harus memiliki KTP- EL," pungkasnya. (kuswoto /jw /kayupuring Editor Fid)

Related Posts:

Kesulitan Distribusi Bantuan Material RTLH di Tlogohendro

 
RTLH di Tlogohendro Petungkriyono Pekalongan - Foto
Tlogohendro (suarapetungkriyono.com) - Tim Pengelola kegiatan (TPK) Desa Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, Darmawan menyebutkan, realisasi program rumah tidak layak huni (RTLH) di desanya mengalami sedikit kendala.

Kendala ini mengingat jauhnya distribusi material ke desa tersebut. Dari jauhnya jarak ini, biaya transportasi untuk mengangkut material sebagai realisasi program dari pemerintah ini membengkak.
"Jauh, juga mahal untuk distribusi materialnya itu menjadikan keseulitan tersendiri," ungkap Darmawan (17/11).

Di desa ini, tercatat 69 warga mendapatkan program bantuan rehab rumah dari pemerintah. Realisasi ini dihadiri langsung oleh Dinas Pemukiman Penduduk Provinsi Jawa Tengah.

dinas pemukiman penduduk profinsi bapak Sulistiono menghimbau untuk segera memulai pengerjaan bagi yang sudah mendapatkan bantuan yang distribusikan dalam bentuk matrial di desa tlogohendro Pada peninjauannya senin 6 november 2017 di rumah Pak juri salah satu warga yang sedang di rehab.

"Semoga bantuan ini bisa secepatnya di alokasikan dengab baik" tambahnya

Selain itu, Sulistiono juga menginformasikan bahwa pengerjaan program ini dilakukan secara kelompok mengingat kondisi di Desa Tlogohendro ini masih kental dengan nilai gotong royong. (Slamet S/JW Tlogohendro Editor Fid)

Related Posts:

73 warga Simego Baru Lakukan Perekaman KTP-el

Puluhan warga Desa Simego Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan antusias melakukan perekaman KTP-el

Simego (suarapetungkriyono.com) - Dalam rangka mengoptimalkan pelayanan administrasi kependudukan (adminduk),  khususnya untuk perekaman KTP elektronik di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, petugas melakukan jemput bola untuk perekaman di beberapa desa.

Hal ini mengingat masih ada sebagian warga di Kecamatan Petungkriyono yang belum melakukan perekaman. Tercatat ada 147 warga yang hingga kini belum melakukan perekaman.

Menurut Petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kecamatan Petungkriyono,  Teguh Riswanto mengatakan, desa pertama yang akan melakukan jemput bola perekaman adalah Simego.

Simego merupakan desa yang cukup jauh dari kantor kecamatan dan memerlukan waktu selama 1 jam perjalanan. Jika tidak dilakukan jemput bola, warga enggan mengurus keperluan adminduk ini, karena warga harus menempuh perjalanan yang terjal.

"Kurang lebih ada 73 warga Desa Simego yang melakukan perekaman. Dan langsung diberikan Surat Keterangan sebagai pengganti cetak KTP-el yang belum jadi. Meskipun terkendala perangkat rekam yang kurang memadai,  namun semuanya berjalan lancar," Senin (30/10).

Teguh menambahkan,  adanya upaya jemput bola ini diharapkan bisa memotivasi masyarakat agar mau mengurus adminduk. Serta lebih memahami pentingnya adminduk sebagai kebutuhan.

Plt.  Kepala Desa Simego,  Didik Catur Puji menyatakan, masyarakat merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Sehingga bisa menghemat waktu dan biaya yang dikeluarkan.

"Masyarakat enggan melakukan perekaman, karena kurangnya kesadaran mengenai pentingnya kepemilikan KTP-el. Namun dengan adanya kegiatan ini masyarakat lebih peduli untuk mengurusnya," katanya. (ria/jw yos)

Related Posts:

Khawatir Siswa PAUD Jatuh di Halaman Sekolah Dibangun Pagar

Rencana Pagar Sekolah di TK Sekar Melati  Dukuh Dranan Yosorejo - Petungkriyono foto Umayah


Yosorejo (suarapetungkriyono.com) - Kepala Sekolah TK Sekar Melati Yosorejo Muninggar mengatakan, karena dihalaman sekolah kondisi saat hujan licin, kotor, dan khawatir siswa-siswinya jatuh dihalaman sekolah, maka pihak sekolah merencanakan pembuatan pagar sekolah, dengan harapan siswanya nyaman dan aman. Demikian disampaikan Muninggar saat berada di ruang kerjanya, jumat (17/11). 

Muninggar menjelaskan, karena pembuatan pagar membutuhkan dana yang cukup lumayan banyak, maka wali murid diharapkan berpartisipasi sebesar Rp 25 ribu per anak, sehingga meringankan beban dari pihak sekolah, dan ini juga untuk keselamatan siswa-siswinya. 

Sementara itu, walimurid Turipah, mendukung penuh apa yang diminta sekolah, pihaknya tidak keberatan, dan ini juga untuk memajukan sekolah, sehingga sekolahnya kelihatan lebih bersih dan nyaman untuk dipandang. 

Pantauan disekolah, ada 30 anak yang mengikuti proses belajar mengajar, dan mereka semua berasal dari Dusun Dranan, Desa Yosorejo, Kecamatan Perungkriyono. (Umayah/Jw Yosorejo Editor Fid) 


Related Posts:

Sebagian Warga Yosorejo Buang Sampah Sembarangan di Sungai

Casmonah Sedang Buang Sampah di Sungai Kaliwetan-Yosorejo - Foto Erry

Yosorejo (suarapetungkriyono.com) - Warga di Dukuh Dranan, Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan hingga kini, masih punya kebiasaan buang sampah sembarangan di sungai, tepatnya di sungai kaliwetan. Mereka membuang sampah pada pagi hari, disaat fajar menyingsing, tidak ada perasaan bersalah, ungkap Endang Tri Suhesti selaku Mantri Kesehatan Dukuh Dranan di kediamannya, Jumat (17/11). 

Endang menghimbau kepada warga masyarakat dukuh dranan, agar tidak membuang sampah sembarangan, karena bisa mencemari lingkungan. " Pihaknya berencana akan melakukan sosialisasi kepada warga, agar kebiasan yang dilakukan minimal terkurangi, target ke depan agar tidak ada warga yang membuang sampah sembarangan di sungai," imbuhnya 

Sementara itu, salah satu warga yang membuang sampah Casmonah (54), selama ini tidak ada tempat pembuangan sampah, sehingga terpaksa buang sampah di sungai. " Emang ga boleh yah, buang sampah di kali, kan kita kan rumahnya digunung, kalau airnya mengalir, yah sampahnya ke utara," katanya. 

Berbeda dengan Suriah warga RT. 02 Dukuh Dranan, alasan dia membuang sampah di sungai, karena dirumahnya kecil, tidak punya pekarangan, dan tidak ada bak sampah, jadi wajar bila membuang sampah di sungai. 

Pantauan jurnalis warga di lokasi pembuangan sampah, tampak sampah berserakan dan dikerubuti lalat dan berbahu tajam, sehingga air sungai yang mengalir bisa tercemar. ( Erry/JW Yos Editor Fid) 

Related Posts:

3 Rumah Warga Miskin di Kayupuring Mendapatkan Bantuan RTLH


Rumah Waris yang direhab dari dana RTLH Provinsi Jawa Tengah - Foto Satrio

KAYUPURING (suarapetungkriyono.com) -  Rumah Waris Dukuh Tembelan, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono akhirnya rumahnya di rehab dari bantuan keuangan provinsi sebesar Rp 10 juta dalam bentuk material dengan sistem swakelola. Rehab dilaksanakan sejak 2 November 2017, sekarang sudah bisa ditempati, namun belum selesai 100 persen. Demikian sampaikan oleh Sunardi selaku Penanggungjawab program rumah tidak layak huni (RTLH) di desa ini. Jumat (17/11/2017). 

Sunardi menambahkan, program ini diharapkan dapat membantu program pengentasan kemiskinan di desa kayupuring. Sementara ini hasil pendataan di Desa Kayupuring terdapat 79 unit rumah tidak layak huni dan pada tahun 2017 mendapatkan 3 rumah yang direhab yakni Rumah Waris, Bejo dan Saja'i.

Salah satu penerima RTLH Waris dukuh tembelan kayupuring mengatakan, sangat terbantu dengan program ini. " Sebenarnya untuk membangun rumahnya, dana bantuan tidak cukup, pihaknya mencukupi biaya lainnya sesuai dengan kemampuannya, " ungkapnya. 

Saat ada rehab dirumahnya, tetangga disekitarnya ikut membantu, dimana pihak laki-laki ikut membantu lewat tenaganya, dan pihak perempuan membantu menyiapkan makanan dan minuman untuk warga yang ikut gotongroyong, semua bantuan dari masyarakat secara cuma-cuma berasal dari kepedulian warganya. (Satrio/jw kayupuring)

Related Posts:

Pentingnya Rintisan KLA di Petungkriyono

Anak-anak di Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan / Foto: Ria Rosita
Petungkriyono - Banyaknya persoalan anak yang harus ditangani di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, seperti masih adanya anak yang belum memiliki akta kelahiran, anak tidak sekolah, kurangnya kepemilikan jamban, nasib anak-anak disabilitas diperlukan perhatian yang cukup serius, Senin (13/11).

Perhatian itu termasuk keberadaan sekolah ramah anak, yang memungkinkan jika Kecamatan Petungkriyono ini merintis Kecamatan Layak Anak. Hal itu dikatakan salah satu warga Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Eriyani.

Menurutnya, jarak dan lokasi yang jauh sangat memungkinkan jika Kecamatan Petungkriyono mendapatkan kesempatan yang sama dengan kecamatan yang lain.

"Ini agar nantinya ada wadah dan pemecahan alternatif untuk pemenuhan hak anak. Sehingga bisa memberi dampak positif bagi anak dan tumbuh menjadi generasi yang berkembang ", kata Eriyani yang juga anggota jurnalis warga setempat, Senin (13/11).

Anak-anak Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan saat belajar mengaji / Foto: Ria Rosita
Sementara itu, Sekcam Petungkriyono Agus Dwi Nugroho,  S.STp mengatakan, besok akan direncanakan kegiatan fasilitasi Kecamatan Layak Anak di Kecamatan Petungkriyono, pihaknya diminta untuk menghadirkan sejumlah perwakilan.

Perwakilan yang akan diundang di antaranya dari Sekolah, Puskesmas, kepala desa sekecamatan Petungkriyono, pengurus TP PKK Kecamatan, PLKB Kecamatan, pendamping PKH, TKSK,  Toga dan Tomas serta kader penggerak masyarakat.

"Dan kami sudah membentuk susunan tim pelaksana gugus Tugas Kecamatan Layak Anak (GTKLA) " ungkapnya. (ria/jw yos)

Related Posts:

Pengabdian Mudrikah, Bidan Desa di Petungkriyono

Bidan Desa di Petungkriyono Kabupaten Pekalongan tengah melakukan aktivitas. / Foto: Ria Rosita.

Petungkriyono (suarapetungkriyono.com) - Bidan desa merupakan tenaga kesehatan yang ditempatkan di suatu desa untuk memudahkan masyarakat dalam menjangkau layanan kesehatan. Namun bagi bidan desa di Desa Yosorejo kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, tugas bidan lebih dari itu.

Hal itu dikatakan salah satu bidan desa setempat, Mudrikah. Menurutnya tugas seorang bidan desa harus disertai pengabdian terhadap masyarakat dan menjadi pendorong serta semangat untuk tetap bertahan di Petungkriyono, yang merupakan salah satu daerah terpencil di Kabupaten Pekalongan.

Mudrikah sudah 10 tahun bertugas di Petungkriyono. Dari pengabdiannya itu, Mudrikah menyimpan banyak kenangan yang tak terlupakan. Salah satunya saat merujuk pasien dari dusun Sawangan Ronggo ke Puskesmas. Di mana saat itu masih memakai tandu yang dibuat dari bambu (dipikul) untuk membawa pasien.

"Berjalan kaki melewati hutan sejauh 7 kilometer. Melewati jalan longsor dan putus ketika akan ke Posyandu, serta sering jatuh saat melakukan perjalanan," katanya saat ditemui di sela-sela tugasnya, Minggu (5/11).

kecamatan Petungkriyono merupakan salah satu wilayah terpencil di Kabupaten Pekalongan. Letaknya berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara. Untuk menuju pusat pemerintahan, masyarakat harus menempuh jarak lebih dari 32 kilometer dengan medan jalan yang cukup ekstrem.

Menjadi bidan desa, kata Mudrikah, memiliki beban kerja yang sangat berat. Di mana seorang bidan desa harus melayani satu desa yang terdiri dari beberapa dusun, dengan lokasi yang jauh antara satu dusun dengan dusun lainnya. Dalam tugasnya, bidan desa harus selalu melakukan konseling dan sosialisasi tentang kesehatan. Serta harus piket di puskesmas selama 24 jam.

"Yang membuat saya sedih adalah ketika disalahkan oleh masyarakat, ketika tidak selalu berada di tempat. Padahal dengan jadwal yang begitu padat, saya juga harus mengurusi keluarga," katanya.

Namun perjuangan panjangnya mulai memberikan hasil, yaitu dengan semakin banyaknya masyarakat yang peduli dengan kesehatan dan gizi keluarga. Khususnya untuk ibu hamil dan balita. Di mana sebelumnya banyak masyarakat yang berpikir jika melahirkan harus dilakukan sendiri tanpa bantuan tenaga kesehatan. Juga selalu mengabaikan kebutuhan gizi ibu hamil dan balita.

"Kurang lebih sudah 60 persen masyarakat di Petungkriyono tanggap mengenai pentingnya kesehatan. Khususnya dalam pemeriksaan kehamilan dan balita. Dan mulai melibatkan tenaga kesehatan dalam proses persalinan," tandasnya. (ria/jw yos)

Related Posts:

Petung Trail Run, Kenalkan Alam Petungkriyono


Peserta nampak antusias mengikuti Petung Trail Run di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan / Foto: Ria Rosita.

Petungkriyono  - Trail running atau mountain running adalah olahraga yang terdiri dari running dan hiking. Ini berbeda dari running di jalan dan hiking biasa. Trail running biasanya dilakukan di daerah pegunungan, dan akan menemukan turunan dan tanjakan yang lebih ekstrim.

Petungkriyono merupakan tempat yang cocok untuk melakukan olahraga ini. hal itu dikatakan Bupati Pekalongan,  Asip Kholbihi, di Lapangan Sigeger Desa Kasimpar Kecamatan Petungkriyono, Minggu (5/11).

Asip menjelaskan, Petung Trail Run ini merupakan upaya untuk mengenalkan hutan Petungkriyono. Sehingga usai kegiatan ini peserta yang mengikutinya bisa berbagi cerita  tentang keindahan Petungkriyono pada keluarga, teman, atau media sosial.

"Hutan Petungkriyono ini masih perawan, dan memiliki kearifan lokal yang masih terjaga. Sehingga para peserta juga harus berhati-hati, dan selalu berkoordinasi dengan panitia. Mari kita nikmati hutan Petungkriyono ini dengan bahagia dan penuh syukur," kata Asip.

Panitia pelaksana dari Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Purwo Susilo mengungkapkan, ada 375 peserta yang mengikuti acara ini. Mereka terdiri dari peserta dengan jarak tempuh 5K, 12K, 27K. Panitia pun telah menyiapkan tenaga medis, tempat untuk transit dan persiapan bekal minum untuk para peserta.

"Meskipun ada beberapa peserta yang tersesat namun semuanya bisa diselesaikan oleh panitia. Dan acara bisa berjalan lancar dan sukses. Tahun depan Petung Trail Run akan di agendakan kembali," ungkapnya.

Peserta Petung Trail Run acas Cirebon, Purti mengatakan, olahraga ini memiliki banyak manfaat. Selain membuat tubuh yang bagus dan badan sehat, juga bisa menikmati udara yang sejuk. " Di sini pemandangannya indah dan udaranya segar. Pengin ikut lagi kalau ada kesempatan," katanya. (ria/jw yos)

Related Posts:

Mentoring Jurnalis Warga Melatih Penulisan Berkarakter

Jurnalis warga Petungkriyono tengah mengikuti peningkatan kapasitas jurnalis warga.
Petungkriyono - Mentoring bagian dari peningkatam kapasitas bagi jurnalis warga, pasalnya ada mekanisme transfer ilmu pengetahuan dari narasumber dan peserta diminta ada penugasan dalam peliputan berita. Mentoring juga agenda rutin yang selalu dilaksanakan oleh Jurnalis Warga (JW) Petungkriyono. Ungkap Eko Fidiyanto selaku Koordinator Jurnalis Warga Kecamatan Petungkriyono, Sabtu (28/10/2017). 

Hadir para JW Petungkriyono yakni 3 JW Desa Kayupuring, Desa Yosorejo, dan Desa Tlogohendro.  Kegiatan ini difasilitasi oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nasional (PPMN) Jakarta. 

Narasumber mentoring Bahrul Ulum dari cbmnews.net mengtakan, setiap kegiatan PPMN selalu memantau perkembangan dan situasi dimana tempat JW tinggal. Tujuannya agar JW bisa menulis sesuai dengan kondisi di masyarakat. Terutama mengangkat permasalahan yang menyangkut pelayanan dasar.

"Mulai sekarang JW harus bisa menulis terkait permasalahan di bidang pendidikan,  kesehatan,  adminduk,  perempuan, dan anak.  Harus mulai berani menulis sesuai dengan tema yang di berikan.  Agar nantinya dalam penulisan lebih terarah dan berkualitas dalam pemberitaan," katanya.

Bertempat di warung makan Bu Siti Desa Yosorejo,  acara berlangsung dengan hidmat dan menyenangkan.  Suasana yang berkabut dengan hujan gerimis menemani aktifitas kala itu. Namun para pejuang Pena ini tetap menulis untuk menghasilkan berita yang enak dibaca. Kemudian nantinya akan di edit langsung oleh pendamping dan menjadi suatu berita.

Namun tidak semua berita yang di tulis selalu berbuah mulus. Karena terkadang ada beberapa teguran dari pihak tertentu ketika menulis berita.  Sehingga kadang menurunkan semangat dalam keaktifan menulis.

"Menulis berita gampang-gampang susah. Karena kita harus melihat dari berbagai sisi.  Kemudian menuangkan dalam tulisan yang kadang menjadi kontroversi. Namun terlepas dari semua itu, menjadi jurnalis itu adalah perjuangan demi perubahan,"  ungkap ria JW Yosorejo.  (ria/jw yos)

Related Posts: