Tradisi Nyadran Sebagai Ungkapan Syukur

Warga Desa Tlogohendro tengah mengikuti prosesi tradisi nyadran / Foto Slamet Sugeng.


Tlogohendro (suarapetungkriyono.com) - Puluhan tumpeng dan satu ekor kerbau bule menghiasi acara tradisi nyadran taun ini di Desa tlogohendro Kecamatan petungkriyono Kabupaten Pekalongan.

Warga berbondong-bondong menghadiri acara tradisi ini.

Mereka membuat nasi tumpeng sebagai rasa syukur warga terhadap Tuhan atas melimpahnya hasil alam di Desa Tlogohendro. Acara ini juga merupakan acara rutiinan warga setempat setiap taun lebih tepatnya di bulan Suro.

Mbah harto sebagai pemimpin ritual juga sebagai juru kunci telaga atau dalam bahasa Jawa tlogo mengatakan, tradisi ini adalah agenda rutin warga dari turun temurun yang dilaksanakan tiap taun di bulan Suro sebagai rasa syukur warga kpada sang pencipta

"Tradisi ini adalah budaya luhur yang harus dijaga, dengan adanya budaya-budaya baru yang masuk bukan berati budaya kita sendiri ditinggalkan," katanya (16/10)

Selain itu, acara utama tradisi ini yaitu melarungkan kepala kerbau bule atau kambing di tengah telaga juga menyiapkan nasi tumpeng dari warga setempat. Tahun ini melarungkan kepala kerbau bule sebagai acara inti yang biasanya digantikan dengan kepala kambing.

"Acara ini juga ada cerita sejarah terbentuknya nama-nama dukuh yang ada di Petungkriyono yang berkaitan dengan cerita rakyat mistis penghuni Telaga Mangunan," tambahnya.

Selama prosesi acara, warga nampak sangat antusias mengikutinya. Warga dari luar daerah pun banyak yang tertarik untuk menyaksikan tradisi budaya tersebut. Ada juga yang hanya penasaran dengan acara ini. Ada pula yang sengaja datang rutin setiap tahun untuk membawa air telaga yang di percaya berkhasiat. (sugeng/ jw tlg)

Related Posts:

0 Response to "Tradisi Nyadran Sebagai Ungkapan Syukur"

Posting Komentar