FDS Kiat Tumbuhkan Gerakan Menabung Seribu per hari.


Suasana FDS di Tlogopakis Kecamatan Petungkriyono - Foto Ria Rosita
Petungkriyono - Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program unggulan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.  Tidak hanya dalam pemberian uang tunai, Pendamping PKH juga juga rutin melakukan FDS (Family Development Session) setiap bulan.

FDS ini sebagai pemberi informasi dan upaya edukasi terhadap keluarga Penerima Manfaat (KPM) dalam peningkatan kualitas kehidupan. Termasuk dalam bidang kesehatan, pendidikan, serta pengelolaan keuangan keluarga. Hal itu dikatakan Koordinator Pendamping PKH kecamatan Petungkriyono, Susanto efendi, S.Kom, kamis (19/10).

Susanto menambahkan, untuk memotivasi semangat menabung bagi KPM, akan diadakan gerakan menabung Rp 1000/hari untuk kurang lebih 350 KPM di Petungkriyono. Dimana akan dibuatkan berita acara kegiatan, dan pendampingan dalam proses pengelolaan keuangan.

"Setelah pemberian materi ini, KPM bisa langsung praktek untuk menabung. Agar nantinya KPM mulai terbiasa menyisihkan uang untuk menabung tiap harinya. Tidak menunggu uang tersisa untuk ditabungkan," katanya.

Pendamping PKH Desa Tlogopakis Kecamatan Petungkriyono, Duwi Priyatinsih, S. Pd mengatakan,  bahwa FDS dilakukan bergiliran setiap bulan. Dimana pembentukan kelompok KPM digabungkan sesuai dengan dusun yang berdekatan. Sehingga tidak hanya menempati satu dusun tertentu.

Namun bergantian dengan KPM di dusun lain dalam satu desa. Untuk FDS kali ini bertempat di dusun Sipetung. Di mana materinya membahas tentang bagaimana cara kita semakin cermat dalam meminjam,  serta memotivasi diri agar lebih rutin menabung.

"Agar nantinya para KPM bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan," ungkapnya saat menyampaikan materi.

Para peserta terlihat bersemangat saat mendengarkan materi yang disampaikan, meskipun suara hujan terdengar semakin deras kala itu. Bagi mereka ini adalah materi yang sangat menarik. Dan bermanfaat dalam pengelolaan keuangan keluarga. Jadi meski harus menempuh jarak sekitar 7 km jauhnya tidak menjadi masalah. Bagi mereka informasi menjadi penting, karena terkendala komunikasi yang masih sulit. 

" Saya selalu meluangkan waktu ikut pertemuan ini. Karena tidak ingin tertinggal informasi dan menyimak materi yang disampaikan," kata Ruliyah (50) KPM dusun Sawangan. (ria/jw yos)

Related Posts:

Warga Senang Akses Jalan Doro-Petungkriyono diperbaiki

Perbaikan Jalan Doro-Petungkriyono (33 km) Untuk Mempermudah Akses Transportasi - Foto Her


Yosorejo - Purni salah satu pengguna Jalan dari Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan  merasa senang dan nyaman karena kondisi akses jalan dari Doro menuju Petungkriyono sudah ditambal aspal, meskipun ada beberapa titik ruas jalan yang masih berlubang dan rusak, Sabtu (28/10). 

Lanjut Purni, hampir satu tahun kondisi jalan Kabupaten dalam kondisi rusak parah, warga merasa tidak nyaman sejak tahun 2016 hingga Juli 2017. Baru oktober 2017 baru nampak perubahannya. " Jalan yang dulu sangat sulit untuk dikendarai sepeda motor, sekarang sudah mulai nyaman," imbuhnya. 

Sementara itu, mandor proyek pembangunan Riyanto mengatakan, setiap hari kurang lebih ada 10 orang bekerja memperbaiki ruas jalas kabupaten ini. "Kita sudah 3 bulan memperbaiki ruas jalan ini dengan diaspal, ada 23 kilometer akses jalan kabupaten dari doro ke petungkriyono, baru kita kerjakan 18 kilometer dan ditaksir selesai bulan depan," ungkapnya. 

Riyanto menambahkan, mohon maaf selama pekerjaan ini berlangsung, para pengguna jalan merasa terganggu, pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin agar target yang ditentukan bisa tepat waktu. 

Pantuan JW di lokasi Jalan Kabupaten ini, di samping ada perbaikan jalan, juga ada beberapa jembatan yang diperbaiki dan dilebarkan, karena kondisi jembatan yang dibangun dalam situasi membahayakan jika dibiarkan tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan ada longsor dekat jembatan. (umayah/ jw yos)

Related Posts:

Kaya Potensi Kopi, Namun Miskin Alat Untuk Proses Produksi


Biji kopi di Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pemalang - Foto Satrio

Kayupuring - Kopi Petungkriyono masuk jenis kopi arabica. karena jika dinikmati tidak terlalu pahit namun memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi. Kopi petungkriyono ini tumbuh dengan baik karena ditanam di dataran tinggi, antara 1.000 meter hingga 2.000 meter di atas permukaan laut. Suhu di lokasi penanaman pun sebaiknya berkisar antara 14-24 derajat Celsius.

"Kopi Petungkriyono tersebar di beberapa desa yakni Desa Tlogohendro, Kasimpar, Kayupuring, Tlogo Pakis, Yosorejo. Kaya potensi namun kecenderungan petani lebih memilih produk dijual dalam bentuk biji dikirim ke Yogyakarta untuk diolah dan digoreng menjadi bubuk kopi," ungkap Satrio (23) salah satu kelompok pengemas kopi di Desa Kayupuring dan membuat inovasi branding kopi dengan nama " Wello Kopi" Sabtu (29/10/2017).

Wello Kopi ini dirintis sejak awal Juli 2017, dari sekelompok pemuda desa kayupuring, Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan. mereka ingin produk yang ada dan tersebar ini jangan sampai dijual dalam bentuk biji kopi.

Namun keterbatasan alat untuk mengemas menjadi bubuk kopi, akhirnya hanya bisa mengemas kopi petungkriyono dengan nama wello dengan bahan baku dibawa ke yogyakarta lalu dikemas di kampungnya.

"Kami jual dalam kemasan sederhana, dikasih stiker, namun dalam sebulan ini kopi wello bisa terjual 200 - 250 bungkus atau sekitar 20-25 kg, pemasaran masih lokal, karena keterbatasan dana dan juga alat untuk memproses dari biji ke bubuk sepertia alat roasting, mixing, extraction, sehingga stok yang tersedia pun tidak banyak," imbuh satrio.

Aroma kopi wello itu wangi seperti buah-buahan atau bunga-bungaan. Beberapa disertai aroma kacang-kacangan. Rasanya pun lebih halus dan penuh.Tak heran harganya juga jauh lebih mahal dibanding jenis kopi lain.

Salah satu penikmat kopi dari Desa Tlogopakis Abdullah (30 th), kopi wello kayupuring ini rasanya tidak kalah dengan kopi yang sudah terkenal, sedikit asam dan warnanya agak coklat, namun saat di sedu dengan air panas, terasa mantap aroma dan rasanya.

"Cocok untuk semua kalangan, disamping harganya tidak mahal, namun saat dinikmati dalam cuaca dingin seperti di petungkriyono, nikmat dan cocok," pungkasnya.  (Kuswoto / jw kyp)

Related Posts:

Lebah Klanceng Prospek Unggulan Kayupuring

Rumah Lebah Klanceng di Kayupuring - Foto Satrio
Kayupuring - Ada puluhan warga di Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan melakukan budidaya lebah klanceng. Berawal dari sosialisasi sebuah lembaga swadaya masyarakat swara owa, mengenalkan cara meningkatkan pendapatan keluarga dengan melihat potensi dan karakteristik alam serta masyarakatnya. Tercetuslah budidaya lebah klanceng di kompleks wisata wello asri. 

Kurang lebih 22 orang mengikuti pelatihan budidaya selama 2 hari (8-9 September 2017), sedangkan dari keterwakilan warga warga kayupuring sebanyak 10 orang dan aktif, sementara ini belum melibatkan perempuan, karena baru untuk laki-laki yang diikutkan. 

Lebah Klanceng (Tetraguna Laeficeps) merupakan salah satu lebah penghasil madu yang hanya bisa di budidayakan di ketinggian tertentu, memiliki postur keci; yaitu lebih kecil dari ukuran lalat, membuat produktivitas madu klanceng lebih sedikit di bandingkan lebah madu lainnya. 

Madu Lebah Klanceng 
Nilai jual madu dari lebah klanceng ini yakni sekitar Rp 80-90 ribu per 200 mililiter,  madu dari lebah klanceng bermanfaat bagi tubuh manusia untuk ketahanan tubuh dan peningkatan gizi. sedangkan lebah klanceng bisa membantu proses penyerbukan tanaman kopi, dan tanaman pangan lainnya. 

Salah satu pemuda yang dilatih Kuswoto mengatakan, budidaya lebah klanceng itu tergolong mudah, dan sudah ada 10-15 koloni lebah klanceng, akan menjadi madu bila sudah 3 bulan. "Diperkirakan pada bulan Nopember 2017, akan panen perdana," ungkapnya.

Ditempat yang berbeda, Salah satu tim dari LSM Suara Owa mengatakan, potensi alam di kayupuring cocok untuk dibudidayakan lebah klanceng. " Ketinggian alamnya cocok, dan banyaknya tanaman pangan dan kopi yang tersedia, sehingga menjadi sumber pangan yang baik untuk produktivitas lebah klanceng, sehingga dampaknya madunya menjadi banyak," pungkasnya. (Satrio/ jw kyp) 

Related Posts:

Mayoritas Perempuan di Yosorejo Pencari Rumput

Perempuan Yosorejo Menggendong Rumput Untuk Pakan Ternak - Foto Ria Rosita
Yosorejo - Tampak terlihat dipagi hari, sore hari hampir mayoritas perempuan di Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono mencari rumput untuk pakan sapi, mereka juga bekerja di sawah untuk mencangkul lahan sawahnya, baik itu pemilik lahan, maupun buruh tani, ungkap Bu Casriah salah satu warga Yosorejo yang memiliki 2 ekor sapi di rumahnya. 

Perempuan yosorejo yang mencari rumput ini dilakukan karena desakan ekonomi dan kebutuhan untuk mencari penghasilan tambahan, rata-rata sapi yang dirawat itu milik orang lain, hanya untuk penggemukan saja. Sapi yang dirawat itu meliputi sapi lokal, sapi kubis, sapi sarol, sapi blandong. Mereka mendapatkan bibit sapi senilai Rp 7 juta, dirawat 18 bulan dan dijual sekitar Rp 12 juta hingga 15 juta. 

Rumput yang diambil berasal dari hutan, ada milik sendiri. Mereka sengaja menanam bibit rumput tersebut di tanah perhutani. 

Berdasarkan pantauan jurnalis warga dilokasi, kebiasan perempuan tersebut mengambil rumput dan digendong itu tidaklah tabu, karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. 

Ditempat terpisah, Manteri Hewan Yulianto mengatakan, membenarkan bahwa perempuan di desa binaanya dia memang setiap hari dari pagi dan sore mengambil rumput sekaligus di gendong dan dibawa ke rumahnya untuk pakan ternak. " Kami setiap hari selalu memeriksakan kesehatan hewan dan memastikan semua ternak yaang ada dalam kondisi sehat," pungkasnya.

Related Posts:

45 Perempuan Kayupuring Bantu Renovasi Tempat Ibadah

Kayupuring (petungkriyono.com) - Perempuan tidak mau kaah dalam hal pembangunan di desa, tampak 45 perempuan terjun langsung membantu kaum adam dalam menggali pasir di sungai, dimana pasir tersebut diambil untuk pembangunan renovasi tempat ibadah. Ungkap Munjanah salah satu perempuan yang ikut ambil pasir di sungai. 

Setelah mengambil rumput dihutan, dan memberikan pakan tersebut ke ternaknya, dengan penuh semangat mereka berjalan kaki dan membawa puluhan karung yang nanti diisi pasir. Mereka berangkat dari jam 08.00 WIB hingga selesai jam 12.00 WIB. 
Suasana Gotong Royong Warga Perempuan Mengambil Pasir di Sungai - Foto Donifah 

45 Wanita cantik yang sudah berumur, langsung menempatkan ke lokasi sungai dimana ada pasirnya. setelah pasir ditaruh dikarung berisi 10 kilo, lalu dibawa ke pinggir jalan raya, dan nantinya dibawa angkutan menuju pembangunan tempat tempat ibadah. 

" Gerakan perempuan mengambil pasir di sungai, ada ungkapan rasa syukurnya untuk membantu mewujudkan bangunan tempat ibadah, yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum, " ungkap sholikhah warga dusun kayupuring. 

Sementara itu Wihartini yang tidak sempat membantu mengambil pasir di sungai, dia hanya bisa memberikan jajan dan minuman untuk camilan ibu-ibu, ini dilakukan sebagai rasa kepedulian antara sesama warga. 

Setiap hari minimal ada 3 rit pasir yang diangkut ke masjid. setelah selesai melakukan pekerjaan pengambil pasir, ibu-ibu naik angkuta mobil dan kembali ke rumah masing-masing. (Donifah jw kayupuring editor fid)


Related Posts:

Semua Sekolah di Petungkriyono Lakukan Gerakan CTPS

Suasana Siswa sedang CTPS di Sekolah - Foto Ria Rosita

Petungkriyono  - Dalam rangka memperingati hari cuci tangan pakai sabun sedunia, semua siswa di satuan pendidikan Kecamatan Petungkriyono baik itu SD/MI, SMP, secara serentak melakukan cuci tangan pakai sabun disekolah masing-masing. Hari Cuci Tangan Pakai Sabun diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Demikian dikatakan oleh Kepala UPT Dindik Petungkriyono, Masyhudi, S. Ag ditempat kerjanya. 

Kegiatan ini bertujuan untuk menggalakkan perilaku hidup sehat, yaitu sebagai upaya untuk menurunkan tingkat kematian balita dan pencegahan terhadap penyakit yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup manusia.

Lanjut Masyudi, bahwa kegiatan ini merupakan hasil koordinasi tim pengerak PKK kecamatan Petungkriyono dengan Sekolah di Petungkriyono. " Perilaku hidup sehat harus dimulai sejak dini. Salah satu caranya dengan mencuci tangan. Agar tercipta sekolah yang sehat ", katanya senin (16/10).

Dalam kegiatan ini para siswa diajarkan cara mencuci tangan dengan benar.  Sosialisasi tentang pentingnya hidup sehat.  Serta anjuran untuk melakukan pola hidup sehat sejak dini.

Tim Kelompok Kerja (POKJA) PKK Petungkriyono Bidang kesehatan, Laely Kurniasari mengatakan bahwa para siswa terlihat begitu antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Dan sangat aktif saat melakukan praktek cuci tangan bersama. 

" Mencuci tangan memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Diantaranya untuk mencegah timbulnya penyakit seperti diare, sakit perut, penyakit kulit, cacingan dan masih banyak lagi. Sehingga membantu anak tumbuh sehat," ungkap laely. (ria/jw yos)

Related Posts:

Jimpitan Warga Kayupuring Bisa Bantu Kegiatan Sosial Warga

Ibu Dasiyah Ketua RT 06 Dusun Kayupuring Mengambil Jimpitan Warga - Foto Purni
Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Ada empat RT di Dusun Kayupuring, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan mengumpulkan dana lewat iuran jimpitan. Kegiatan ini sudah berlangsung satu tahun ini. 

Iuran jimpitan berbentuk uang Rp 1000 atau beras dan ditaruh di aqua gelas yang ditempatkan disamping pintu depan rumah. Atas keikhlasan warga, berbuah manis yakni uang yang terkumpul bisa untuk kegiatan sosial yakni membantu warga yang sakit dan juga menolong anak yang berkebutuhan khusus termasuk untuk santunan anak yatim. 

Salah satu warga dusun kayupuring Donifah (32) mengatakan, setiap hari pada kamis sore, uang jimpitan diambil oleh ketua RT masing-masing, setelah terkumpul kemudian di hitung, dicatat dan disimpan dirumahnya. " Jimpitan ini diinisiasi oleh Ibu-Ibu Jamaah Tahlil, dan uang yang dihimpun untuk keperluan warga dusun kayupuring, bisa diwujudkan dalam santuann untuk warga yang sakit, maupun untuk kegiatan sosial lainnya," ungkapnya. Sabtu (28/10/2017)

Sementara ini uang jimpitan sudah pernah baru disumbangkan untuk kegiatan sosial yakni beli hadiah lomba untuk tingkat Ibu dan Anak yang dilaksanakan setiap 7 hari setelah perayaan idhul fitri. 

Sementara itu, Ketua RT 06 Dusun Kayupuring Dasiyah (32) mengatakan, dulu jimpitan menggunakan iuran beras, namun karena ada masukan dari warga agar tidak menyulitkan dalam penjualan beras, akhirnya sekarang diwujudkan dalam bentuk uang recehan sebesar Rp 1000 per rumah, dan diambil tiap 2 minggu sekali. (Purni jw kayupuring editor fid)


Related Posts:

225 Siswa di Petungkriyono Terima Bantuan PIP.

Suasana siswa sedang tanda tangan mengambil uang bantuan PIP di SDN Yosorejo 2 - Foto Ria Jw Yosorejo
Yosorejo(suarapetungkriyono.com) - Kepala Sekolah SDN Yosorejo, Tri Setyobudi, S. menerangkan bahwa di sekolahnya ada 225 siswa didiknya mendapatkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP),  bantuan PIP ini adalah bantuan berupa uang tunai dari pemerintah yang diberikan kepada peserta didik yang orang tuanya tidak dan/atau kurang mampu membiayai pendidikannya,  sebagai kelanjutan dan perluasan sasaran dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM), senin (23/10).

Tri menjelaskan, untuk kecamatan Petungkriyono proses pencairan PIP dilakukan langsung oleh petugas bank, yaitu menghadirkan petugas bank BRI sebagai pemberi layanan. Dengan tujuan agar memudahkan siswa dalam proses pengambilan bantuan. Sedangkan untuk orang tua yang mengantar anaknya mengambil bantuan, cukup dengan menghadirkan anaknya saja untuk tanda tangan. Tidak perlu membawa fotocopy berkas.  Sedangkan bagi anak yang tidak hadir atau sakit bisa mengambil langsung ke bank BRI Doro.

 " Untuk tempatnya dilakukan terpusat di SDN Yosorejo 2 ini. Siswa yang menerima bantuan berjumlah 225, " terangnya. 

Para orang tua terlihat sangat senang ketika mendampingi anaknya.  Meski harus menempuh 1 jam perjalanan untuk sampai di lokasi. Setia menunggu petugas yang datang dari pagi hingga siang. Dengan harapan bisa membantu mencukupi kebutuhan sekolah anaknya. 

" Saya sangat senang bisa mengantarkan anak kesini. Bantuan ini bisa meringankan beban saya dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak. Nantinya akan saya gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah," kata Heri (34) warga dusun Wonodadi.  (ria/jw yos editor fid).

Related Posts:

Puluhan Warga Tlogohendro Enggan Mengurus Perubahan Status di E-KTP

Muhamad Kuswoto JW Kayuring melihatkan KTP yang belum berubah status - Foto Sugeng
Tlogohendro (suarapetungkriyono.com) - Kebanyakan warga yang berstatus buruh tani dan petani, enggan mengurus dokumen adminduk E-KTP untuk perubahan status. Ada puluhan warga di Tlogohendro enggan merubah status tadinya sudah menikah namun masih tercatat lajang.  

Mereka menganggap pengurusan dokumen adminduk terkait E-KTP tidaklah penting, karena sehari-hari, hanya bekerja di sawah dan berkebun. Ungkap salah satu warga Sodikin (22) Dukuh Rejosari, Desa Tlogohendro, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Sabtu (28/10/2017). 

Ditempat terpisah, tepatnya di Desa Kayupuring pun terjadi hal yang sama seperti yang diungkapkan sodikin, contohnya pranoto dukuh kayupuring, Desa Kayupuring, pencaharian buruh tani dan karena tidak punya sepeda motor, akhirnya enggan untuk mengurus dokumen perubaha status. 

Sementara itu, Kades Tlogohendro Kaslam mengatakan, sangat penting merubah status menikah atau belum, bagi warga yang sudah menikah, hendaknya segera mungkin ada perubahan status di E-KTPnya, untuk menghindari hal-hal yang tidak tidak diinginkan. 

Menurutnya, Kartu Tanda Penduduk (KTP) adalah identitas resmi Penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana yang berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi warga yang ingin merubah status di E-KTP maka harus memenuhi syarat yakni ada surat pengantar dari RT/RW, Membawa KK dan E-KTP yang ada, FC akta kelahiran atau ijasah, selanjutnya pihak desa akan memberikan surat pengantar ke Kantor Kecamatan, dan yang bersangkutan untuk segera diurus sesuai dengan pengantar tersebut. (Sugeng JW Tlogohendro) 

Related Posts:

Amel, Bocah Disabiltias Yosorejo Tetap Sekolah

Amel diantar Ibu Kandungnya ke Sekolah - Foto Eriyani

Petungkriyono - Wenda Amelia (Amel) tampak sumringah dan penuh semangat saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah SD Negeri 3 Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan.

Meskipun sebagai penyandang disabilitas namun Amel tetap semangat untuk belajar. Anak dari Dusun Dranan RT 04 RW 02 Desa Yosorejo ini tidak mampu berjalan sejak  kelas 2 sekolah dasar. Saat itu fisiknya tiba-tiba lumpuh, Dia pantang menyerah, bahwa menurutnya sekolah itu penting dan bisa nantinya menjadi penerang hidupnya. 

Dengan keterbatasannya dalam mengejar cita-citanya, amel yang sekarang berusia 10 tahun masih belajar di kelas 3 SD. Sejak bayi hingga kelas 1 SD Amel masih bisa berjalan. Namun saat menginjak kelas 2 SD Amel mengalami kelumpuhan.

Saat berangkat dan pulang sekolah, Amel selalu diantar sang ibu Utami (26) dengan kursi roda. Sudah setahun ini dia mengantar anaknya ke sekolah. Kursi roda ini merupakan pemberian dari Dinas Sosial Kabupaten Pekalongan yang diberikan pada Juli 2017 kemarin.

"Demi anak agar bisa sekolah. Awalnya, sebelum menerima kursi roda, amel di gendong dari rumah ke sekolah, kurang lebih 100 meter. Tapi setelah dapat kursi roda, saya selalu mendorongnya ke sekolah," kata Utami (9/11).

Atas bantuan kursi roda ini Utami mengaku, Amel lebih bersemangat dalam sekolahnya. Menurutnya kursi roda Pemerintah Kabupaten Pekalongan ini sangat membantu aktivitas belajar anaknya.

Sementara itu, salah satu guru SD Negeri 3 Yosorejo Endang Uswati selalu mensupport  Utami yang selalu mengantarkan anaknya ke sekolah dengan mendorong kursi roda.

"Amel anak yang berbakat, dan semangat belajarnya tinggi. Semoga dengan dia mau belajar di sekolah, akhirnya dia bisa sukses dalam hidupnya nanti," katanya.

Saat pemberian bantuan kursi roda ini, diserahkan langsung oleh Camat Petungkriyono, didampingi Petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Pendamping Keluarga Harapan (PKH) dan Pemdes Yosorejo kepada pihak keluarga penerima. (eriyani/ jw yos)

Related Posts:

Tradisi Nyadran Sebagai Ungkapan Syukur

Warga Desa Tlogohendro tengah mengikuti prosesi tradisi nyadran / Foto Slamet Sugeng.


Tlogohendro (suarapetungkriyono.com) - Puluhan tumpeng dan satu ekor kerbau bule menghiasi acara tradisi nyadran taun ini di Desa tlogohendro Kecamatan petungkriyono Kabupaten Pekalongan.

Warga berbondong-bondong menghadiri acara tradisi ini.

Mereka membuat nasi tumpeng sebagai rasa syukur warga terhadap Tuhan atas melimpahnya hasil alam di Desa Tlogohendro. Acara ini juga merupakan acara rutiinan warga setempat setiap taun lebih tepatnya di bulan Suro.

Mbah harto sebagai pemimpin ritual juga sebagai juru kunci telaga atau dalam bahasa Jawa tlogo mengatakan, tradisi ini adalah agenda rutin warga dari turun temurun yang dilaksanakan tiap taun di bulan Suro sebagai rasa syukur warga kpada sang pencipta

"Tradisi ini adalah budaya luhur yang harus dijaga, dengan adanya budaya-budaya baru yang masuk bukan berati budaya kita sendiri ditinggalkan," katanya (16/10)

Selain itu, acara utama tradisi ini yaitu melarungkan kepala kerbau bule atau kambing di tengah telaga juga menyiapkan nasi tumpeng dari warga setempat. Tahun ini melarungkan kepala kerbau bule sebagai acara inti yang biasanya digantikan dengan kepala kambing.

"Acara ini juga ada cerita sejarah terbentuknya nama-nama dukuh yang ada di Petungkriyono yang berkaitan dengan cerita rakyat mistis penghuni Telaga Mangunan," tambahnya.

Selama prosesi acara, warga nampak sangat antusias mengikutinya. Warga dari luar daerah pun banyak yang tertarik untuk menyaksikan tradisi budaya tersebut. Ada juga yang hanya penasaran dengan acara ini. Ada pula yang sengaja datang rutin setiap tahun untuk membawa air telaga yang di percaya berkhasiat. (sugeng/ jw tlg)

Related Posts:

Pesona Wisata Air di Petungkriyono

Pesona Curug Bajing Kecamatan Petungkriyono / Foto Ria Rosita
Petungkriyono - Keindahan alam Petungkriyono tak pernah habis untuk diceritakan. Hutan alam yang indah dan asri,  keragaman hasil pertanian yang melimpah, sikap warganya yang sederhana dan ramah, serta pesona wisata air yang menyegarkan.

Ada beberapa alternatif pilihan yang bisa dinikmati ketika berwisata di kecamatan yang berada di ujung Kabupaten Pekalongan ini. Dari sekedar menikmati indahnya alam ketika melakukan perjalanan. Menikmati air terjun yang mempesona penuh kesejukan.  Atau memacu adrenalin pengunjung dalam melakukan permainan yang menantang.

Untuk menikmati indahnya air terjun pengunjung bisa mampir ke wisata Curug Bajing yang terletak di Desa Tlogopakis. Pengunjung hanya merogoh kocek Rp 5.000 per orang untuk masuk di wisata itu. Spot menarik juga disediakan tempat itu untuk selfie dan rest area.

Pengelola wisata Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)  Curug Bajing, Abdullah mengatakan, ada perubahan harga tiket di hari besar dan libur nasional, "Khusus untuk hari besar atau libur nasional harga tiket masuk menjadi Rp 7.000 per orang, mengingat semakin banyaknya pengunjung yang datang saat hari tersebut ", ungkapnya, Sabtu (7/10).

Belakangan ini Curug Bajing sudah mengalami banyak perubahan. Tempat parkir semakin luas dengan fasilitasnya semakin bertambah. "Saat datang ke sini saya langsung pangling, karena banyak perubahan yang terjadi. Meski sudah 3 kali berkunjung ke sini, rasanya saya tidak pernah bosan untuk datang ke sini lagi ", kata Alfian saat berkunjung.

Gardu Pandag di Curug Lawe Kecamatan Petungkriyono / Foto: Ria Rosita
Tempat lain yang menawarkan wisata air terjun adalah Curug Muncar. Dengan harga tiket masuk Rp 5000 per orang, pengunjung bisa menikmati alam dengan menaiki ambal sewu dan menikmati mata air panas. Pengunjung juga bisa bermain flaying fox dengan merogoh kocek Rp 15.000 per orang.


Satu lagi wisata air terjun yang asik untuk dikunjungi, yaitu Curug Lawe yang menyajikan keindahan pohon pinus yang sangat asri dan indah. Area foto dengan aksen payung dan pohon selfie yang tinggi,  selalu menjadi daya tarik yang unik. Dengan harga tiket masuk sebesar Rp 5000 per orang, pengunjung bisa menikmati semuanya.


Wisata air Welo River kecamatan Petungkriyono / Foto: Ria Rosita
Sedangkan untuk pecinta petualangan, Welo River menjadi pilihan utama. Di sini tersedia wisata air yang menantang. Dengan harga tiket masuk sebesar Rp 3000 per orang, pengunjung bisa menikmati indahnya alam dan jernihnya sungai yang melintas di Kecamatan Petungkriyono. Sedangkan untuk permainan air yang menantang dikenakan biaya tambahan.

"Bagi yang ingin mencoba river tubing maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 75.000 per orang, untuk body rafting sebesar Rp 35.000 per orang, sedangkan untuk tracking sebesar Rp 60.000 per orang ", ungkap Kuswoto pengurus pokdarwis Welo River, (ria/jw yos).

Related Posts:

Masih Ada 3 Kasus AKB di Petungkriyono

Muspika kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan nampak antusias mengikuti rapat koordinasi AKI dan AKB
Petungkriyono - Dalam upaya menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), Dinas Kesehatan kabupaten Pekalongan menggelar rapat koordinasi lintas sektoral di Kantor Kecamatan Petungkriyono, Kamis (28/9).

Kegiatan yang digelar di aula kecamatan ini diharapkan untuk memperkuat kapasitas di masyarakat serta sebagai media diskusi untuk menurunkan AKI dan AKB. Karena sepanjang tahun 2017 ini, di Petungkriyono masih ada 3 kasus AKB yang butuh penanganan cepat dan tepat, agar jumlah AKI dan AKB tidak semakin bertambah.

Kepala Puskesmas Kecamatan Petungkriyono, dr. Budi Cahyono Ponco Utomo menyatakan, cakupan persalinan di Petungkriyono belum mencapai 100 persen. Hal ini terjadi karena minimnya tenaga kesehatan di masing-masing desa.

Di kecamatan yang letaknya lebih dari 30 km dari pusat pemerintahan kabupaten ini hanya ada tenaga kesehatan, di mana 1 bidan harus mengurusi satu desa yang memiliki beberapa dukuh dengan jarak tempuh yang berjauhan. Serta lamanya pengambilan keputusan oleh pihak keluarga dalam proses persalinan menuju fasilitas kesehatan.

"Di masyarakat masih ada anggapan kalau bisa melahirkan sendiri di rumah itu lebih membanggakan,  daripada harus pergi atau dibantu oleh tenaga kesehatan," ungkap Budi (28/9).

Sementara Kasie Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, Nono Jumiarno memaparkan, di Kabupaten Pekalongan terdapat AKI sejumlah 12 kasus, AKB 80 kasus, dan kematian balita 14 kasus. Sehingga perlu adanya upaya pendekatan dan informasi mengenai pentingnya kesehatan ibu dan balita di masyarakat.

"Jangan sampai ketika ibu dan bayinya sehat setelah melahirkan, tidak dibarengi dengan perawatan dan penanganan yang sesuai. Sehingga harus selalu diperhatikan untuk kebutuhan gizi dan kebersihan tempat tinggal, " paparnya.

Dalam kesempatan ini juga dilakukan pengukuhan Gerakan Masyarakat Stop Angka Kematian Ibu dan Bayi ( Gema Setia) di Kecamatan Petungkriyono, dengan agenda penyediaan kantung persalinan dan gizi balita. (ria/yos)

Related Posts: