Para Perempuan Petungkriyono



Tim Jurnalis Warga Petungkriyono Kabupaten Pekalongan yang mayoritas kaum perempuan.


Laporan: Ria Rosita (JW Petungkriyono)


Petungkriyono - Para perempuan di Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah dengan segala keterbatasan dan semangat telah melakukan banyak hal. Mereka tak hanya bekerja di sawah, berkebun, mengelola usaha, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, namun juga membantu anak-anak Petungkriyono untuk bertumbuh secara baik. Semangat adalah modal awal bagi perjuangan para ibu dan perempuan disini. Inilah perjuangan para ibu di Petungkriyono:

Perempuan di Petungkriyono yang selalu semangat beraktivitas ke pasar yang jaraknya 30 km dari desanya.
Perjuangan Bandiyah
Meski sudah berkeluarga para perempuan ini tetap teguh berkarya. Menyumbangkan pemikiran besar atau sekedar menambah pundi-pundi rezeki. Terus berjalan tanpa lelah, demi kehidupan yang lebih baik. Berharap masa depan yang cerah, untuk merasakan manisnya hidup. Entah dalam lingkungan keluarga maupun sosial. 

Seperti yang dialami Bandiyah dalam kesehariannya di Desa. Rutinitas berkebun, menjadi perempuan petani adalah rutinitas kesehariannya. Ia senang bisa bekerja, menghidupi ekonomi keluarga.

"Sudah 20 tahun lebih saya melakukan rutinitas ini, sebagai bagian dari kebutuhan, merumput dan berkebun padi menjadi pilihan, karena minimnya keahlian ", kata Bandiyah (40).

Selalu semangat melakukan semua ini. Semua hal dilakukan dari merumput, berkebun. Yang penting halal dengan kerja keras sendiri. Kebutuhan keluarga menjadi faktor utama. Demi sebuah senyum penuh makna. Karena bersyukur dengan apa yang dimilikinya.



Tim jurnalis warga Petungkriyono Kabupaten Pekalongan yang selalu semangat menulis untuk perubahan.
Perjuangan Eriyani
Berkembangnya jaman membuka pemikiran baru bagi para perampuan. Perubahan fisik menjadi ibu hamil tidak menjadi halangan. Karena kuatnya keinginan untuk merasakan perubahan. Jalan kaki menjadi pilihan karena karena keterbatasan kendaraan. 

Eriyani adalah salah satu perempuan yang tinggal di Desa Petungkriyono, Pekalongan. Tak hanya menjadi calon ibu, kini ia juga bergiat dalam kegiatan di desa. Ia ingin selalu ada perubahan di desa. Dalam berkegiatan misalnya, Eriyani yang sedang hamil harus berjalan sejauh 1 kilometer. Naik turun bukit. Ini ia lakukan karena ia ingin membantu perubahan di desa.

" Saya ingin adanya perubahan di desa. Permasalahan yang ada harus dituntaskan. Kami ingin agar masyarakat desa merasakan perubahan yang lebih baik. Dan hidup dengan sejahtera ", kata eriyani (27).

Perjuangan Purni
Perjuangan tak berhenti sampai disini. Ada perempuan lain. Purni namanya. Purni adalah salah satu perempuan yang kemudian berjuang melalui tulisan di jurnalisme warga. Purni kemudian menulis tentang kondisi anak disabilitas yang butuh perhatian, ini adalah tantangan baru di desa. Berjuang untuk kehidupan yang layak bagi anak-anak disabilitas dan sama dengan teman sebayanya, menjadi penggugah semangatnya selama ini untuk memperjuangkannya.

"Saya hanya menyampaikan berita di lapangan. Berharap ada tanggapan dari pemerintah terkait. Hingga akhirnya anak dissabilitas mendapat perhatian dan bantuan pemerintah ", ungkap purni (27).


Jurnalis warga perempuan nampak belajar menulis dengan trainer.

Perjuangan Kayem
Kepedulian terhadap anak-anak di desa juga dilakukan banyak perempuan. Tindakan bullying semakian meluas hingga ke Petungkriyono. Anak-anak semakin turun kepercayaan dirinya. Malu hidup pas-pasan karena tidak ada kendaraan. Bersikap agresif dan cenderung mudah marah. Keras hati dan lemah dalam pergaulan sosialnya. 

" Semakin banyak anak putus sekolah. Karena mereka malu dengan teman sebayanya. Takut di olok-olok karena tidak memiliki motor dan handphone yang bagus. Yang ujung-ujungnya terjadi tindak kekerasan", ujar Kayem (29).

Perjuangan Ria
Untuk itulah para perempuan, para ibu di Petungkriyono ini melakukan banyak hal untuk membuat perubahan. Selalu ada jalan ketika kita menginginkan perubahan. Menjadi ibu rumah tangga juga bisa memotivasi dan memunculkan pemikiran baru. Kesempatan yang ada selalu dipergunakan untuk. Karena ingin menyuarakan permasalahan demi tercipta perubahan. 

"Menjadi ibu rumah tangga adalah anugerah yang luar biasa. Setiap saat selalu melihat senyum yang terpancar dari anggota keluarga. Hingga terkadang memunculkan pemikiran-pemikiran baru. Yang bisa diterapkan untuk kesehjateraan lingkungan. Karena adanya dukungan dari suami dan keluarga tercinta ", ujar Ria (28).

Ketika ingin memunculkan perubahan ternyata bisa dari hal sederhana. Dari apa yang kita punya dan bisa lakukan. Para perempuan juga punya peluang untuk menciptakan perubahan. Belajar berbagi dan menyumbagkan informasi. Dengan harapan adanya apresiasi bagi perempuan. Untuk dapat bermanfaat bagi lingkungan.

Related Posts:

0 Response to " Para Perempuan Petungkriyono"

Posting Komentar