Para Perempuan Petungkriyono



Tim Jurnalis Warga Petungkriyono Kabupaten Pekalongan yang mayoritas kaum perempuan.


Laporan: Ria Rosita (JW Petungkriyono)


Petungkriyono - Para perempuan di Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah dengan segala keterbatasan dan semangat telah melakukan banyak hal. Mereka tak hanya bekerja di sawah, berkebun, mengelola usaha, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, namun juga membantu anak-anak Petungkriyono untuk bertumbuh secara baik. Semangat adalah modal awal bagi perjuangan para ibu dan perempuan disini. Inilah perjuangan para ibu di Petungkriyono:

Perempuan di Petungkriyono yang selalu semangat beraktivitas ke pasar yang jaraknya 30 km dari desanya.
Perjuangan Bandiyah
Meski sudah berkeluarga para perempuan ini tetap teguh berkarya. Menyumbangkan pemikiran besar atau sekedar menambah pundi-pundi rezeki. Terus berjalan tanpa lelah, demi kehidupan yang lebih baik. Berharap masa depan yang cerah, untuk merasakan manisnya hidup. Entah dalam lingkungan keluarga maupun sosial. 

Seperti yang dialami Bandiyah dalam kesehariannya di Desa. Rutinitas berkebun, menjadi perempuan petani adalah rutinitas kesehariannya. Ia senang bisa bekerja, menghidupi ekonomi keluarga.

"Sudah 20 tahun lebih saya melakukan rutinitas ini, sebagai bagian dari kebutuhan, merumput dan berkebun padi menjadi pilihan, karena minimnya keahlian ", kata Bandiyah (40).

Selalu semangat melakukan semua ini. Semua hal dilakukan dari merumput, berkebun. Yang penting halal dengan kerja keras sendiri. Kebutuhan keluarga menjadi faktor utama. Demi sebuah senyum penuh makna. Karena bersyukur dengan apa yang dimilikinya.



Tim jurnalis warga Petungkriyono Kabupaten Pekalongan yang selalu semangat menulis untuk perubahan.
Perjuangan Eriyani
Berkembangnya jaman membuka pemikiran baru bagi para perampuan. Perubahan fisik menjadi ibu hamil tidak menjadi halangan. Karena kuatnya keinginan untuk merasakan perubahan. Jalan kaki menjadi pilihan karena karena keterbatasan kendaraan. 

Eriyani adalah salah satu perempuan yang tinggal di Desa Petungkriyono, Pekalongan. Tak hanya menjadi calon ibu, kini ia juga bergiat dalam kegiatan di desa. Ia ingin selalu ada perubahan di desa. Dalam berkegiatan misalnya, Eriyani yang sedang hamil harus berjalan sejauh 1 kilometer. Naik turun bukit. Ini ia lakukan karena ia ingin membantu perubahan di desa.

" Saya ingin adanya perubahan di desa. Permasalahan yang ada harus dituntaskan. Kami ingin agar masyarakat desa merasakan perubahan yang lebih baik. Dan hidup dengan sejahtera ", kata eriyani (27).

Perjuangan Purni
Perjuangan tak berhenti sampai disini. Ada perempuan lain. Purni namanya. Purni adalah salah satu perempuan yang kemudian berjuang melalui tulisan di jurnalisme warga. Purni kemudian menulis tentang kondisi anak disabilitas yang butuh perhatian, ini adalah tantangan baru di desa. Berjuang untuk kehidupan yang layak bagi anak-anak disabilitas dan sama dengan teman sebayanya, menjadi penggugah semangatnya selama ini untuk memperjuangkannya.

"Saya hanya menyampaikan berita di lapangan. Berharap ada tanggapan dari pemerintah terkait. Hingga akhirnya anak dissabilitas mendapat perhatian dan bantuan pemerintah ", ungkap purni (27).


Jurnalis warga perempuan nampak belajar menulis dengan trainer.

Perjuangan Kayem
Kepedulian terhadap anak-anak di desa juga dilakukan banyak perempuan. Tindakan bullying semakian meluas hingga ke Petungkriyono. Anak-anak semakin turun kepercayaan dirinya. Malu hidup pas-pasan karena tidak ada kendaraan. Bersikap agresif dan cenderung mudah marah. Keras hati dan lemah dalam pergaulan sosialnya. 

" Semakin banyak anak putus sekolah. Karena mereka malu dengan teman sebayanya. Takut di olok-olok karena tidak memiliki motor dan handphone yang bagus. Yang ujung-ujungnya terjadi tindak kekerasan", ujar Kayem (29).

Perjuangan Ria
Untuk itulah para perempuan, para ibu di Petungkriyono ini melakukan banyak hal untuk membuat perubahan. Selalu ada jalan ketika kita menginginkan perubahan. Menjadi ibu rumah tangga juga bisa memotivasi dan memunculkan pemikiran baru. Kesempatan yang ada selalu dipergunakan untuk. Karena ingin menyuarakan permasalahan demi tercipta perubahan. 

"Menjadi ibu rumah tangga adalah anugerah yang luar biasa. Setiap saat selalu melihat senyum yang terpancar dari anggota keluarga. Hingga terkadang memunculkan pemikiran-pemikiran baru. Yang bisa diterapkan untuk kesehjateraan lingkungan. Karena adanya dukungan dari suami dan keluarga tercinta ", ujar Ria (28).

Ketika ingin memunculkan perubahan ternyata bisa dari hal sederhana. Dari apa yang kita punya dan bisa lakukan. Para perempuan juga punya peluang untuk menciptakan perubahan. Belajar berbagi dan menyumbagkan informasi. Dengan harapan adanya apresiasi bagi perempuan. Untuk dapat bermanfaat bagi lingkungan.

Related Posts:

Musrembangdes, Pemdes Tampung Usulan Warga

Pemerintah Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono tengah menampung usulan Musrembangdes.

Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Musyawarah perencanaan pembangunan desa (musrenbangdes) di Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan menampung semua usulan warga setempat, Selasa (19/9).

Kepala Desa Kayupuring Cahyono mengatakan, dari tim sebelas sudah melaksanakan tiga kali pertemuan untuk menyusun perencanaan atau mengambil usulan dari masing-masing dusun untuk perencanaan anggaran tahun 2018.

"Prencanaan ini sesuai usulan masyarakat semua, bukan dari pemerintah desa sendiri. Karena dari dulu pemerintah desa melaksanakan program atau kegiatan sesuai dengan usulan masyarakat. Akan tetapi usulan tersebutyang bisa di pertanggungjawabkan," ungkapnya di kantor desa (19/9).

Dia menjelaskan, sebagai contoh, saat mengusulkan MCK yang memang lokasi pembangunannya tidak ada. Keuangan desa pun tidak bisa dipergunakan. Selain itu, sampai saat ini pun untuk anggaran tahun 2018 pagunya belum jelas berapa nominalnya.

"Jadi pemerintah desa dalam merencanakan baru menyusun usulan-usulan tersebut dan untuk memastikan kegiatan-kegiatan apa saja yang terdanai itu belum bisa. Itu pun harus melihat kegiatan yang memang harus diprioritaskan," tambahnya.

direktur Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Yusuf mengungkapkan, secara proses, Desa Kayupuring dianggap paling baik dibandingkan dengan dua desa lain di Kecamatan Petungkriyono. Mengenai kesiapan pun dari tim sebelas sudah sangat serius.

"Masalah kualitas dokumen bagus atau tidaknya sambil berjalan, yang penting prosesnya berjalan dulu sesuai dengan tahapan. Apalagi dari tim sebelas sudah merinci jadwalnya dengan jelas," ungkapnya.

Yusuf berharap, jika diadakan pertemuan di tingkat kabupaten, pihaknya akan menjadikan Desa Kayupuring sebagai percontohan. Karena direncanakan akan diadakan launching yang akan dihadiri pemerintah provinsi.

"Dokumen yang sudah jadi akan dipamerkan di tingkat provinsi dan yang saya daftarkan adalah Desa kayupuring untuk memaparkan nantinya," imbuhnya.

Dalam musyawarah yang dihadiri Camat Petungkriyono, Formasi dan semua elemen masyarakat desa, Camat Petungkriyono Agus Purwanto mengapresiasi perencanaan pembangunan di desa ini yang dinilai baik dan terstuktur.

"Sudah berjalan dengan bagus dan terstruktur musyawarah yang dilaksanakan secara bertahap ini. Kami berharap nanti bisa sebagai percontoan dan mudah-mudahan hasil debat ini bisa berakhir di pelaksanaan di tahun 2018. Semoga kedepannya bisa direalisasi untuk anggaran yang ada di desa," ungkapnya.

Selanjutnya, terkait permasalahan aliran listrik, beberapa desa yang akan teraliri listrik tahun ini adalah  Desa Curug Muncar dan Desa Songgodadi. Di Desa Songgodadi pun tidak semuanya akan teraliri karena sebagian wilayah merupakan lahan Perhutani.

"Walaupun dari Perhutani sudah menerima surat permohonan dari kabupaten akan tetapi surat tersebut harus diproses sampai provinsi dan pusat. Memang dari Perhutani secara lisan sudah memerintahkan untuk di garap akan tetapi dari PLN tidak berani karena harus ada izin tertulisnya dari perhutani" tandasnya. (kuswoto/kyp)


Related Posts:

Warga Kayupuring Berbondong-bondong Bikin Adminduk

Warga berbondong-bondong memfotocopy persyaratan pembuatan adminduk.

Kayupuring (suarapetungkriyono) - Warga Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan berbondong-bondong membuat administrasi kependudukan setelah mengikuti sosialisasi dari Dinas kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dindukcapil), Kamis (7/9).

Sosialisasi ini diadakan oleh Forum Masyarakat Sipil (Formasi) dalam acara Selapanan di desa tersebut pada Agustus lalu. Setelah mendapat informasi tersebut, warga berbondong-bondong datang ke tempat fotocopy untuk memfoto KK dan KTP guna melengkapi persyaratan.

Di antara mereka, ada yang bermaksud mengubah Kartu Keluarga untuk memperoleh tanda tangan Dindukcapil. Juga ada yang mengubah status di KTP dan KK.

Hal itu dilakukan salah satu warga, R (27). Dia mengatakan, dirinya akan membuatkan KTP suaminya. Dia membuatkan KTP suaminya yang sebelumnya hilang dan belum dilakukan penggantian.

"Menurut saya untuk apa dibuat cepat-cepat, walaupun suami saya bekerja di Jakarta tapi suami saya kerjanya 'mbatu' kan tidak perlu KTP," kata R di rumahnya (7/9).

Namun demikian, dirinya mengakui dengan adanya sosialisasi tersebut dirinya mengaku mengerti bahwa administrasi kependudukan itu harus segera dibuat. Hal ini mengingat KTP merupakan kartu identitas kependudukan yang merupakan bukti kewarganegaraan dan domisili, serta keharusan sebagai dokumen kependudukan.

"Itu harus segera dibuat, jadi sudah saya urus," tambahnya.

Berdasarkan rekapitulasi dari kader Selapanan, Munjanah mengatakan, jumlah warga Dusun Kayupuring tercatat 401 jiwa. Di antara mereka ada beberapa yang belum memiliki KTP dan status yang sesuai dalam KTP. Namun per Agustus kemarin 25 warga sudah mendaftarkan diri dalam pembuatan dan pengubahan status KTP.

"Adanya kesadaran masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan dalam pembuatan kepemilikan identitas hukum," pungkasnya. (purni/kyp)

Related Posts:

Dua Penyandang Disabilitas di Petungkriyono Mulai Diperhatikan

Pemerintah Desa Kayupuring bersama petugas TKSK dan Koordinator PKH Petungkriyono nampak memberikan bantuan kursi roda kepada Miskiyah.

Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Kepedulian dan perhatian pemerintah kepada para penyandang disabilitas di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan mulai nampak. Hal ini terbukti dengan disalurkannya beberapa macam bantuan dan santunan, Jumat (8/9).

Pemkab Pekalongan melalui Dinas Sosial memberikan bantuan berupa perlengkapan tidur, perlengkapan mandi, obat-obatan, makanan, bahkan kursi roda.

Seluruh bantuan ini diserahkan langsung oleh Camat Petungkriyono, petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), PKH, dan Pemerintah Desa Kayupuring.

Kepala Desa Kayupuring, Cahyono mengatakan, untuk tahun depan Pemerintah Desa Kayupuring sudah merancang anggaran untuk pendataan dan kebutuhan penyandang disabilitas.

"Kami juga akan mengupayakan untuk pendidikan mereka (disabilitas). Semuanya sudah dimasukkan dalam usulan rencana pembangunan kegiatan desa (RKP-Des) tahun 2018," katanya Jumat sore (8/9).

Sutriyah, yang merupakan ibu dari Miskiyah, penyandang disabilitas dari kecil di Desa Kayupuring yang menerima bantuan ini mengaku, keluarga sangat bersyukur bisa mendapatkan bantuan tersebut. Bantuan ini, kata dia, bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan mempermudah aktifitas anaknya, Miskiyah.

"Dengan diberikannya kursi roda, anak saya jadi bisa bergerak kesana kemari. Jadi lebih banyak aktifitasnya," ungkap Sutriyah.


Miskiyah, penyandang disabilitas tengah berkumpul dengan keluarga usai menerima bantuan dari Pemkab Pekalongan dan Pemdes Kayupuring.

Diketahui, dalam keluarga besar Surtiyah terdapat dua penyandang disabilitas, yakni Miskiyah (23) dan Tegar Sugianto (4) yang kini mendapat bantuan dari Pemkab Pekalongan. Keduanya medapat perhatian dari Pemkab dan Pemdes setempat.

Hal serupa juga diungkapkan Kasni, ibu Tegar Sugianto. Dirinya sangat senang karena mendapat banyak bantuan dengan berbagai bentuk.

"Alhamdulillah kami mendapatkan bantuan yang menurut kami sangat banyak. Kami merasa senang dan puas dengan diberikannya bantuan ini sangat membantu keluarga kami," (purni/kyp)
pungkasnya.

Related Posts:

Warga Tlogohendro Pertahankan Nilai Gotong-royong

Warga Desa Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono nampak antusias dalam kerja bakti. 
Tlogohendro (suarapetungkriyono.com) - Warga Desa Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan hingga kini masih antusias untuk mempertahankan nilai gotong-royong dengan rutin mengadakan kerja bakti, Jumat (22/9).

Mereka mengadakan kerja bakti dengan memperbaiki jalan rusak, talut dan saluran air. Pemerintah desa pun sering menghimbau warganya untuk selalu kompak dan saling bahu-membahu dalam membangun desa.

Kepala Desa Tlogohendro Kaslam mengatakan, cara membangun desa bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mempertahankan budaya kerja bakti ini.

"Selain mempercepat pekerjaan, kerja bakti juga penting untuk mempererat kerukunan antar warga," ujarnya.

Kaslam melanjutkan, walaupun masih ada yang tidak hadir dalam kerja bakti ini, pemerintah desa selalu memberikan penyuluhan tentang pentingnya kerja bakti dan kebersihan lingkungan melalui para perangkat desa.

"Kami sering memberikan penyuluhan tentang pentingnya mempertahankan nilai gotong-royong dan kebersihan lingkungan," lanjut Kaslam.

Salah satu perangkat desa warsono mengatakan, walaupun masih ada yang tidak hadir, namun sebagian besar warganya sangat antusias dalam kerja bakti. Mengingat sekarang sudah mulai lunturnya kesadaran budaya kerja bakti yang dilakukan dengan sukarela.

"Saya selalu pantau, juga berpartisi jika diadakan kerja bakti. Saya memberi peringatan bagi yang tidak hadir bahkan sanksi," pungkasnya. (slamet/tlg)



Related Posts:

Kayupuring Wakili Kecamatan di Jambore Kampung KB

Peserta jambore Kampung KB dari Desa Kayupuring Kecamatan Pekalongan tengah menghias tumpeng.

Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Desa Kayupuring mewakili Kecamatan Petungkriyono bersama 27 desa lain di Kabupaten Pekalongan dalam Jambore Kampung KB yang diadakan oleh Universitas Pekalongan (Unikal), Kamis (7/9).

Jambore yang diadakan Unikal ini atas kerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PMD P3A dan PPKB) Kabupaten Pekalongan.

"Saya sangat tegang sekali pada saat lomba senam cuci tangan pakai sabun dan tampil di depan. Apalagi banyak orang yang menonton. Tapi saya sering latihan sama mahasiswi Unikal. Mereka yang melatih gerakan gerakan senam cuci tangan," ungkap Siyah salah satu peserta PKK Desa Kayupuring.

Salah satu mahasiswa Unikal yang tengah mengikuti praktik lapangan di Desa Kayupuring, Krisna mengatakan, panitia penyelenggara jambore ini adalah dosen prodi kesehatan masyarakat Unikal. terdapat 28 Kampung KB yang ikut jambore ini. Salah satunya Desa Kayupuring, karena di Kecamatan Petungkriyono baru desa itu terbentuk Kampung KB.

"Di jambore Kampung KB juga diadakan lomba Pusat informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), merias tumpeng, LCC, stand, dan senam cuci tangan pakai sabun," katanya.

Dia menambahkan, selain perlombaan juga dipamerkan berbagai macam produk desa seperti, kopi, gula semut, beras hitam dan berbagai macam prodak lainya. Setiap desa mewakilkan 5 kaderya untuk berpartisipasi dalam jambore ini.

"Kebanyakan peserta yang ikut jambore kampung KB merupakan kelompok ibu PKK. Karena sebagian besar mereka masuk dalam kader di struktur Kampung KB di tiap desa," pungkasnya. (kuswoto/kyp)

Related Posts:

KTP Sementara Berlaku 6 Bulan


Warga Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono, Riyana, tengah melakukan perekaman data KTP-el.
Petungkriyono (www.suarapetungkriyono.com) - Berdasarkan Undang-undang No 24 Tahun 2013 yang mengamanatkan, KTP elektronik (KTP-el) berlaku seumur hidup, selama tidak ada perubahan data di dalamnya. Namun lantaran kelangkaan blangko KTP-el, maka digantikan dengan KTP sementara yang berlaku 6 bulan.

Petugas Catatan Sipil Kecamatan Petungkriyono, Teguh Riswanto mengatakan, untuk proses perekaman KTP-el bisa dilakukan di kantor kecamatan. Namun untuk mendapatkan hasil cetaknya harus datang langsung ke Dinas Catatan Sipil Kabupaten Pekalongan di Kajen. Sehingga diberikan KTP sementara sebagai pengganti KTP-el yang belum jadi.


 
"Namun perlu diingat bahwa KTP sementara hanya berlaku 6 bulan saja. Dan harus diperpanjang apabila masa berlakunya habis," ungkapnya Rabu (6/9).

Teguh menambahkan, saat ini kantor Pelayanan Administrasi Kependudukan (Adminduk) ada di Kecamatan Petungkriyono. Terletak di dekat pintu gerbang samping kantor kecamatan. Sehingga dari jauh bisa terlihat letaknya dan mempermudah segala pelayanan adminduk.


"Untuk sementara blangko KTP-el yang tersedia di Dinas Catatan Sipil Kajen masih kosong. Perkembangannya akan selalu kami informasikan apabila sudah tersedia lagi," tambahnya.

Salah satu pemohon KTP-el Riyana (17) mengatakan, proses perekaman menurutnya sangat mudah dan cepat. Namun hal ini disayangkan karena KTP-el tidak bisa langsung jadi dan memakan waktu cukup lama.

"Kalau mengurus lagi ke Kajen jadi nambah biaya lagi. Tapi saya diberi KTP sementara sebagai penggantinya ", katanya. (ria/jw yos)

Related Posts:

Toilet Sampah untuk Kendalikan Plastik


Kepala Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Darnoto tengah memperagakan pemanfaatan botol sampah plastik
Yosorejo (www.suarapetungkriyono.com) - Masyarakat tidak bisa lepas dari penggunaan plastik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga berimbas pada kerusakan lingkungan. Hal ini membuat pemerintah Kabupaten Pekalongan melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Perumahan dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) melakukan sebuah terobosan.

Pihaknya mengadakan bimbingan teknis mengenai cultural techno forestry park yang memberikan wawasan baru pada masyarakat dalam menangani sampah plastik di Kecamatan Petungkriyono. Karena saat ini Petungkriyono ditetapkan sebagai kawasan wisata, sehingga semakin banyak orang yang datang ke wilayah itu.

"Dalam bimbingan teknis ini ditampilkan perbandingan antara pembungkus makanan jaman dahulu dengan sekarang. Di mana dulu selalu menggunakan daun pisang yang saat daunnya mengering maka menjadi indikator bahwa makanan sudah kadaluarsa. Tapi sekarang semuanya menggunakan plastik jadi selalu terlihat awet. Sehingga makin banyak masyarakat beralih pada plastik sebagai pembungkus," kata
Siti Marfuah, perwakilan DPRKPLH Kabupaten Pekalongan (29/8).
 
Relawan dari Komunitas Biji (Kombi), Andi mengatakan, kelestarian alam tidak hanya dengan pohon. Namun harus dibarengi dengan pengelolaan sampah. Di mana sampah plastik jika dibiarkan lama-lama bisa merusak alam.

"Toilet sampah menjadi alternatif dalam pengendalian plastik. Yaitu dengan menyediakan botol bekas sebagai toilet dan memasukkan plastik ke dalamnya. Selanjutnya ditekan dengan kayu atau sejenisnya sampai padat. Karena sampah plastik adalah racun sedangkan botol adalah obatnya," ungkap Andi sambil memperagakan.

Andi menambahkan, Toilet sampah yang sudah terkumpul bisa dijadikan kerajinan. Dari mulai meja, kursi, hiasan, bahkan rumah. Jadi tidak akan merusak alam dan udara karena pembakaran dan pembuangan plastik.

Lebih lanjut Balai Pengelolaan Hutan Wilayah IV, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Heru Cahya Nugraha mengatakan, Petungkriyono adalah kawasan hutan yang memiliki keunikan khas dan merupakan sisa hutan alam di Jawa.


Menurutnya, penduduk di Petungkriyono bertahan dari tekanan perubahan alam. Serta memiliki beragam kekayaan alam dan hutan. Sehingga dalam pengelolaannya harus memperhatikan conservation (penyelamatan kawasan), ecotourisme (pariwisata alam), dan increased revenue (peningkatan pendapatan).

"Petungkriyono sebagai Nature Heritage adalah sebagai kawasan pengembangan situs bersejarah dan memiliki kearifan lokal yang selalu terjaga. Sehingga semua itu harus dijaga dan dipertahankan, " pungkasnya. (ria/jw yos)

Related Posts:

3 Desa di Petungkriyono Mulai Bergerak Bersama Formasi


Tim Formasi tengah membentuk tim penyusunan RKP-Des 3 desa di Petungkriyono Kabupaten Pekalongan,
Dibentuk Tim Penyusun RKP-Des
Pekalongan (www.suarapetungkriyono.com) - Peran serta masyarakat dalam pembangunan desa mulai digerakkan. Hal ini dibuktikan dengan adanya pembentukan kelompok kerja (pokja) di 3 desa di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan kemarin.
Kelompok tersebut akan bertugas sebagai penyusun Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP-Des). Dengan tema penguatan kapasitas champion, para peserta mendapatkan pelatihan dari tim Forum Masyarakat Sipil (Formasi) selama 3 hari di hotel Dafam Pekalongan. Mereka terdiri dari perwakilan Desa Kayupuring, Yosorejo, dan Tlogohendro.
 
Direktur Formasi Yusuf Murtiono mengatakan, penggunaan dana desa harus sesuai dengan kebutuhan yang ada di desa. Entah dalam bidang layanan kesehatan, pendidikan, maupun administrasi kependudukan.
"Hal ini dengan harapan bisa mengayomi, mengurangi kemiskinan, dan membuat masyarakat sejahtera. Kewenangan desa adalah rohnya desa, dan pembangunannya harus melihat siapa saja yang ada di dalam desa," katanya kemarin (22/8).

Lebih lanjut Kepala Puskesmas Kecamatan Petungkriyono, dr. Budi Cahyono Ponco Utomo mengungkapkan, di bidang kesehatan, Petungkriyono masih memiliki banyak kendala. Kurangnya bidan desa dalam pelayanan kesehatan juga mendapat keluhan dari masyarakat.

"Ketika satu bidan desa harus mengurusi beberapa dukuh dengan jarak tempuh yang jauh. Tentunya berdampak pada lambatnya pelayanan terhadap pasien. Sehingga masyarakat semakin susah mendapat layanan kesehatan," ungkap Budi.

Sementara di bidang pendidikan, kurangnya tenaga pengajar membuat proses belajar mengajar menjadi terhambat. Hanya sedikit guru PNS yang ditempatkan di Petungkriyono. hal itu dikatakan
Kepala UPT dindik Petungkriyono, Masyhudi, S. Ag.

"Faktanya guru PNS di Petungkriyono tidak hanya mengajar, tapi juga mengurusi administrasi di sekolah. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pegawai di sekolah. Dan akhirnya membuat proses belajar mengajar jadi terhambat," pungkasnya. (ria/jw yos)

Related Posts: