Peserta PKH di Petungkriyono Keluhkan Ribetnya Pengambilan Bantuan


Masyarakat Kecamatan Petungkriyono saat hendak mengambil dana bantuan PKH.
Petungkriyono (suarapetungkriyono.com) - Penyaluran bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) mulai dikeluhkan masyarakat di Kecamatan Petungkriyono, Kamis (31/8).

Hal ini disebabkan lantaran penerima bantuan tersebut harus pergi langsung mengambil bantuan di bank. Padahal di Petungkriyono belum ada bank penyalur bantuan resmi yang dapat melayani pengambilan uang secara tunai, ataupun melalui anjungan tunai mandiri (ATM).

Koordinator Kecamatan (Korcam) PKH Kecamatan Petungkriyono, Susanto Efendi, S. Kom mengatakan, untuk saat ini penyaluran bantuan PKH memang bekerjasama dengan Bank BNI sebagai penyalur resmi, yaitu dengan melakukan transfer langsung kepada penerima bantuan.

"Sebagai pendamping PKH kami juga selalu memastikan apakah bantuan sudah di terima atau belum. Dan mendampingi dalam pengambilan uang di ATM atau bank. Karena banyak peserta merasa takut apabila melakukan kesalahan," kata Susanto.

Para peserta memilih untuk menyewa angkutan doplak (mobil bak terbuka) sebagai pilihan. Karena bank yang memiliki fasilitas ATM ada di Kecamatan Doro yang jaraknya kurang lebih 23 km dengan kondisi jalan yang cukup terjal. Mereka berangkat bersama rombongan dan saling berdesakan demi mengambil uang bantuan tersebut.

"Saya bingung dan takut misal melakukan kesalahan di ATM. Sekali diajari sudah lupa lagi. Lebih enak yang dulu karena prosesnya tidak ribet, "  ungkapCarumi peserta PKH dari Desa Yosorejo.

Adanya kemudahan dalam pengambilan bantuan selalu diharapkan para peserta agar tidak perlu banyak mengeluarkan biaya untuk pengambilan. Sehingga bantuan yang diberikan bisa digunakan dengan
utuh.

Hal serupa diungkapkan peserta PKH lain Dariyah. Dirinya mengungkapkan, auhnya tempat pengambilan membuat ongkos yang dikeluarkan jadi lebih mahal.

"Belum lagi potongan admin dari pihak bank. Kalau harus ke bank penyalur resmi semakin jauh, nambah ongkos lagi. Coba kalau di Petung ada bank, kan tidak repot lagi," ungkapnya. (ria/jw yos)

Related Posts:

Batik Petungkriyono Raih Juara Harapan di Kajen Batik Karnival

Camat Petungkriyono Agus Purwanto bersama Petugas TIC wisata Petungkriyono nampak memegang piala usai festival di Kajen.
Kajen (www.suarapetungkriyono.com) - Batik Petungkriyono meraih juara harapan 2 kategori batik kecamatan dalam ajang Kajen Beauty Karnival yang diadakan pemerintah Kabupaten Pekalongan, Senin (28/8).

Dalam ajang tersebut, Batik Petungkriyono juga ditampilkan dalam konsep busana kerja. Jenis batik ini adalah batik tulis yang digambar langsung oleh pengrajin batik.

Batik lokal ini terinspirasi dari kehidupan para petani kopi yang ada di Kecamatan Petungkriyono. Kopi petungkriyono memang menjadi produk tani yang sangat menonjol di wilayah ini.

Ditemui di kantor kecamatan, Sekretaris Camat Petungkriyono Agus Dwi Nugroho mengatakan, dengan adanya batik lokal dari Petungkriyono diharapkan bisa mengenalkan potensi yang ada di wilayah pegunungan ini.

"Adanya Batik Petungkriyono ini diharapkan bisa mengenalkan potensi yang ada di Petung. Dan aroma kopi petung dapat tercium hingga seantero nusantara," katanya.

Kecamatan petungkriyono merupakan penghasil kopi arabika dengan kualitas terbaik di Pekalongan sehingga menginspirasi warga setempat untuk mengembangkan kreativitas dalam bentuk kain batik.

Batik ini didominasi warna merah dalam motif batik kopi, menggambarkan keseriusan petani kopi dalam pengelolaannya.

Petugas Tourist Information Centre (TIC) wisata Petungkriyono, Rosita mengungkapkan rasa bangganya dapat mengenakan batik lokal Petungkriyono dalam ajang Kajen Beauty Karnival ini.

"Saya bangga bisa mengenakan Batik Petungkriyono ini. Menampilkan gambar kopi yang penuh filosofi bagi warga Petungkriyono. Serta bisa mengenalkan Petungkriyono lebih luas lagi," katanya. (ria/jw yos)

Related Posts:

159 RTM Petungkriyono Terima KKS Program PKH

Pendamping PKH Kecamatan Petungkriyono bersama penerima RTM Program PKH tengah menunjukkan KKS.

Petungkriyono (suarapetungkriyono.com) Tercatat sebanyak 159 Rumah Tangga Miskin (RTM) di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan menerima Kartu keluarga Sejahtera (KKS) sebagai syarat pengambilan bantuan, Kamis (10/8).

KKS merupakan syarat untuk mengambil bantuan nontunai dari Program Keluarga Harapan (PKH) yang bekerjasama dengan pihak Bank BNI. PKH merupakan program perlindungan sosial pemerintah pusat untuk mensejahterakan masyarakat miskin untuk menunjang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial (lansia dan disabilitas berat).

Bertempat di Balai Desa Yosorejo para peserta PKH terlihat antusias saat dibagikan KKS. Terdapat 159 RTM yang tersebar di 9 desa di Kecamatan Petungkriyono menerima kartu ini.

Salah satu peserta PKH, Riwi (35) mengatakan, dengan batuan ini dirinya tetap bisa melanjutkan anaknya untuk terus melanjutkan sekolah.

Saya sangat senang mendapat bantuan. Di mana anak saya bisa terus bersekolah. Dan saya selalu menyemangati anak saya untuk menggapai cita-citanya ", katanya.

Peserta yang hadir juga terdiri dari perempuan lanjut usia (lansia). Mereka turut senang lantaran dengan bantuan ini bisa memenuhi kebutuhannya.

Dengan bantuan ini saya sangat terbantu. Umur saya sudah tua, tidak mampu lagi untuk bekerja. Mendapatkan penghasilan sangatlah susah,  sedangkan semuanya sekarang serba mahal,” ungkap Ratem (80) peserta PKH lansia.

Koordinator Pendamping PKH Kecamatan Petungkriyono, Susanto Efendi, S. Kom mengatakan, untuk penyaluran kali ini ada 159 peserta yang tersebar dari 9 desa yang ada di Kecamatan Petungkriyono. Alhamdulillah pembagian berjalan lancar dan tertib,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama,  Kasi Kesejahteraan Rakyat (kesra) Kecamatan Petungkriyono, Ikhsan berharap, dengan adanya bantuan ini masyarakat dapat terbantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Adanya bantuan ini diharapkan bisa memberi manfaat, dan dapat dimanfaatkan sesuai  keperuntukannya,” pungkasnya. (ria/ jw yos)

Related Posts:

Kirab Merah-Putih Perkuat Nasionalisme

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi tengah menyampaikan poin-poin nasionalisme
dalam Kirab Merah-Putih di Kecamatan Petungkriyono.
Petungkriyono (suarapetungkriyo.com) - Dalam rangka peringatan HUT RI ke-72, Kodim/0710 Pekalongan mengadakan acara kirab merah putih di kawasan wisata Curug Bajing Desa Tlogopakis kecamatan Petungkriyono, Minggu (30/7).

Diawali dengan upacara pengibaran bendera, para peserta terlihat khidmat dan bersemangat. Upacara dilanjutkan dengan pembacaan ikrar merah-putih yang berisi tentang janji untuk selalu menjaga nasionalisme dalam kesatuan NKRI.

Dalam amanatnya, Komandan Kodim (Dandim) Pekalongan Kapten Sidig menegaskan, mulai tanggal 1 hingga 31 Agustus semua warga negara Indonesia diwajibkan memasang bendera merah-putih untuk memperingati hari kemerdekaan.

" Mari kita pasang bendera merah-putih untuk memperingati HUT RI, sebagai bentuk nasionalisme dan penghormatan kepada para pahlawan yang telah gigih berjuang,” katanya.

Sidig mengapresiasi antusias Bupati Pekalongan serta semua elemen masyarakat yang mengikuti kegiatan Kirab Merah-Putih tersebut.

Saya sangat berterimakasih kepada Bapak Bupati Pekalongan, komunitas yang hadir, OPD,  serta lapisan masyarakat.  Sehingga acara berlangsung dengan lancar dan tertib,” tambahnya.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi menjelaskan, pada masa penjajahan, Kecamatan Petungkriyono merupakan wilayah jajahan Belanda. Di mana masyarakat setempat turut berjuang dengan gigih untuk mengusir penjajah.

Namun saat ini, kata Bupati, semangat perjuangan dianggap kian menurun dan tergeser oleh globalisasi dan maraknya media sosial.

"Mari kita bangun lagi semangat nasionalisme kita. Dengan tetap berkiblat pada Pancasila, mencintai barang produksi lokal, dan menjaga alam di Petungkriyono ini. Sebagai bentuk rasa cinta tanah air, jangan mau terprovokasi oleh berita-berita yang merusak NKRI,” ajak Bupati. (ria/jw yos).

Related Posts:

Evaluasi PKK Tumbuhkan Inovasi

Pembina PKK tengah memaparkan evaluasi program PKK di Desa Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono
Tlogohendro (suarapetungkriyono.com) - Pembinaan Kesehatan Keluarga (PKK) Kabupaten Pekalongan menggelar evaluasi di Desa Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono. Evaluasi ini guna menumbuhkan inovasi pada organisasi tersebut, Sabtu (29/7).

PKK merupakan wadah pemberdayaan masyarakat yang meliputi penghayatan dan pengamalan Pancasila,  pendidikan, sandang pangan, serta kesehatan dalam keluarga. Di mana setiap tahun diadakan evaluasi masing-masing program dalam kelompok kerja (pokja).

Ketua PKK Kabupaten Pekalongan Dra. Munafah Asip Kholbihi mengatakan, meskipun letak geografis Kecamatan Petungkriyono cukup menyulitkan, namun pengadian Kader PKK di wilayah tersebut tetap semangat dalam menjalankan program.

"Letak geografis desa di Kecamatan Petungkriyono memiliki tingkat kesulitan yang beragam. Sehingga saya sangat berterimakasih kepada setiap kader yang selalu mengabdi dalam menjalankan setiap program PKK," ungkap Isteri Bupati Pekalongan Tersebut.

Menurut dia, setiap bentuk program yang dilaporkan harus disampaikan apa adanya sesuai dengan yang terjadi di lapangan selama menjalankan program. Hal ini demi mencari solusi tepat untuk setiap permasalahan.

“Agar jangan ada yang ditutupi atau takut dalam menyampaikan. Agar setiap masalah dapat menemukan solusi yang tepat. Evaluasi tujuannya untuk melihat langsung kegiatan 10 program pokok PKK," tambahnya.

Melalui Dana Desa, kata dia, PKK juga memiliki hak dalam pendanaan. Karena PKK termasuk program pemberdayaan masyarakat. Sehingga setiap kader lebih bersemangat dalam melakukan kegiatan. Selain itu, tercipta inovasi program sesuai dengan kebutuhan masing-masing desa.

Tahun ini ada 2 desa binaan yang dievaluasi. Di mana setiap program selalu mendapatkan bimbingan langsung dari PKK Kecamatan.  Baik untuk tertib administrasi maupun inovasi program,” katanya.

Lebih lanjut Ketua PKK Kecamatan Petungkriyono Wiretnoningsih mengungkapkan, dua desa binaan yang mendapat evaluasi adalah Desa Kayupuring dan Desa Tlogohendro. Segala persiapan dan pembinaan pun dilakukan dengan maksimal.

Semoga hasilnya dapat membawa perubahan untuk kemajuan PKK di tiap desa," pungkasnya. (ria/jw yos).

Related Posts:

Bullying Penyebab Maraknya Anak Putus Sekolah

Warga Desa Yosorejo Kecamatan petungkriyono nampak antusias mengikuti musdes.
Petungkriyono (suarapetungkriyono.com) - Masyarakat Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan. Hal ini menjadi pembahasan dalam pemaparan musyawarah desa (musdes) kali ini, Kamis (27/7).

Berdasarkan UUD 1945 No. 31 ayat 1 dan 2 tercantum bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Termasuk anak-anak yang berhak mendapatkan pendidikan dasar. Namun pada kenyataannya, tidak semua anak dapat mengeyam pendidikan.

Di Desa Yosorejo, tercatat sekitar 41 anak usia sekolah namun tidak melanjutkan pendidikannya. Dari angka tersebut, terdiri dari anak usia SLTP hingga SLTA. Salah satu penyebabnya ialah kurangnya percaya diri anak ketika bergaul di lingkungannya.

"Sebagian anak merasa malu dengan teman sekolahnya. Karena tidak memiliki motor atau handphone yang bagus. Jadi lebih memilih untuk tidak sekolah dan memilih putus sekolah untuk bekerja saja," ungkap Siti Aisah (28) salah satu warga yosorejo dalam kegiatan musdes tersebut (27/7).

Lebih miris, ketika anak-anak hendak melanjutkan sekolah, mereka mendapatkan perlakuan yang kasar dari teman sebayanya. Hal ini membuat sebagian dari mereka enggan meneruskan sekolah lagi.

"Maraknya anak putus sekolah karena mereka takut dengan teman-temannya. Takut menjadi bahan olokan (bullying) teman sebayanya. Yang terkadang sampai berlanjut dengan tindak kekerasan," ungkap Kayem (29) warga lain saat berdiskusi.

Para orang tua sudah melakukan banyak hal dan terus memotivasi anak mereka. Hal ini demi melihat anaknya hidup lebih sukses dan mengangkat derajat orangtuanya. Para orangtua pun merasa khawatir dengan nasib anak mereka. 

"Peran serta pemerintah sangat dibutuhkan. Jangan sampai para generasi muda memiliki mental yang lemah dalam meraih cita-citanya. Karena generasi muda adalah pejuang bangsa. Untuk memajukan tanah air Indonesia," pungkasnya. (ria/jw yos)

Related Posts:

Remaja di Kayupuring Butuh Perpustakaan

Dua remaja di Desa Keyupuring Kecamatan Petungkriyono nampak membereskan buku-buku yang tersisa
Kayupuring (suarapetungkriyono.com)  - Fajar Ilmi, nama sebuah perpustakaan yang sudah direncanakan akan dibentuk oleh para remaja Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan pada tahun 2013 lalu, kini kondisinya sangat memprihatinkan.

Buku-buku yang bertumpuk di lantai mulai menjamur dan nampak memprihatinkan. Keterbatasan biaya dan semangat para remaja yang hilang membuat embrio perpustakaan Fajar Ilmi tidak terwujud hingga kini. Padahal banyak anak-anak dan remaja yang membutuhkan ilmu dan buku sebagai jendela dunia.

"Dulu sewaktu direncanakan tampak sekali semangat para remaja untuk membangun perpustakaan. Apalagi setelah pembuatan nama yang akan segera diresmikan membuat semangat para remaja Kayupuring semakin tinggi," ungkap Kuswoto salah satu remaja Desa Kayupuring, (13/8).

Kuswoto menjelaskan, kekompakan remaja Kayupuring sangatlah penting untuk mendukung berdirinya perpustakaan di desanya. Akan tetapi tanpa disertai dengan dana yang cukup juga akan sulit untuk menghidupkan Fajar Ilmi tersebut.

Sofiatun Amalia remaja setempat mengungkapkan, sebelumnya pengumpulan buku semuanya berasal dari para remaja yang dibawa dari rumah masing-masing. Pengumpulan koleksi buku ini dilakukan secara swadaya para remaja.

"Untuk pembangunannya diambil dari uang kas para remaja yang dikumpulkan pada setiap pertemuan remaja Kayupuring," kata remaja yang akrab disapa Meli ini.

Dia berharap, di desanya segera terwujud impian para remaja yang menginginkan perpustakaan sebagai bentuk kepedulian terhadap minat baca masyarakat, khususnya para remaja. Selain remaja, peren serta pemerintah desa juga sangat dibutuhkan.

Semoga semangat para remaja Kayupuring untuk membangun Fajar Ilmi bercahaya kembali seperti cahaya sinar matahari di pagi hari” tandasnya. (purni/jw kyp)

Related Posts:

Wisata Air Welo Asri Sebagai Penunjang Ekonomi

Pengunjung nampak menikmati body rafting di wisata Welo Asri Kecamatan Petungkriyono
Kayupuring (suara petungkriyono) - Wisata air Welo Asri yang terletak di desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan ini merupakan surga bagi wisatawan yang menyukai tantangan atau gemar olahraga air seperti, river tubing, body refting, river tracking, ciblon dan lainnya.

Ada banyak tempat yang patut dikunjungi, di antaranya Kedung Gede, Kedung Sipingit, dan Kedung Sepasung atau yang lebih dikenal sebagai black canyon Kabupaten Pekalongan. Selain permainan air, wisata Welo Asri juga menyediakan berbagai macam spot seperti pohon selfie, sandal raksasa, jembatan taman sungai dan jembatan cinta .

Meskipun dengan terbatasnya biaya yang  ada di wisata Welo Asri namun tidak akan menjadikan pengurus wisata ini putus semangat untuk mengembangkan sektor wisata.

Salah satu pengurus wisata welo asri Nur Hayat mengatakan, untuk membangun sebuah wisata sangat di butuhkan kekompakan ,kesadaran ,kedisiplinan dan jiwa yang penuh tanggung jawab.

“Semuanya untuk menjaga serta merawat agar tetap menjaga kelestarian alam tanpa sedikitpun merusak atau melukai kelestarian alam yang ada di sekitar wisata,” katanya Senin( 31/7).

Pengelola wisata ini berharap, dengan kehadiran wisata Welo Asri ini bisa membantu kesejahteraan masyarakat serta para pemuda. Terlebih di Desa Kayupuring ini banyak pemuda yang tidak melanjutkan sekolah, sehingga dengan adanya wisata para pemuda bisa ikut terlibat di dalamnya.

Selain itu, di wisata Welo Asri ini banyak sekali potensi-potensi yang menjadi daya tarik wisatawan. Masyarakat pun bisa mengembangkan oleh-oleh khas Petungkriyono, seperti gula aren dan kopi khas wilayah ini yang bisa dijual kepada wisatawan.


“Semoga pemerintah bisa memberikan bantuan karena di wisata welo asri banyak fasilitas yang kurang memadai seperti toilet, peralatan river tubing dan tempat parkir,” ungkap Roh Nuryanto selaku wakil ketua Pokdarwis welo asri. (Kuswoto/Jw kyp).

Related Posts:

Musdes Sebagai Awal Pembangunan Desa

Warga Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono tengah membahas pembangunan desa dalam kegiatan musdes. 
Kayupuring (Suara Petungkriyono.com) - Lahirnya Undang-undang tentang Desa telah melahirkan semangat baru dalam upaya membangun Indonesia ke arah lebih baik. Begitu juga semangat para warga Desa Kayupuring pagi ini, Kamis (15/06).

Mereka berbondong-bondong menuju keKantor Kepala Desa setempat guna mengikuti Musdes (Musyawarah Desa) yang diadakan satu bulan sekali oleh tim Formasi (Forum Masyarakat Sipil).

Kedatangan mereka penuh semangat dan antusias. Tampak dari wajah-wajah mereka menghadiri undangan tanpa beban. Salah seorang warga Casiyah mengungkapkan, dirinya ingin terlibat dalam upaya membangun desa yang lebih baik.

"Saya ingin sekali merubah Desa menjadi lebih baik dan maju," ujar Casiyah bersama dua orang temannya Casmirah dan Umaroh.

Sementara District Fasilitator Formasi Haryoko menjelaskan, pada umumnya pembangunan desa idealnya pelaksanaan pembangunan dari Bulan April. Karena pada bulan April anggaran baru turun sampai tahun berikutnya.

“Sedangkan untuk tahun 2017 idealnya bulan Juli sudah harus dirancang untuk pelaksanaan tahun 2018," katanya.

Untuk Dusun Tembelan, kata Haryoko, belum ada pendidikan anak usia dini (Paud) karena pada tahun 2015 belum ada anak-anak usia Paud. Namun sekarang sudah banyak dan diharapkan segera dibangunkan sarana dan prasarana untuk pendidikan anak.

Dalam acara Musdes ini, semua koordinator tiap dusun pun menyampaikan permasalahan yang ada di dusunnya dan kemudian oleh tim Formasi akan dilaporkan pada pihak kelurahan sebagai (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) RPJM Des 2013-2019 Desa Kayupuring.


“Nanti hasil dari Musdes ini akan diberikan kepada pihak kelurahan sebagai RPJM-Des 2013-2019 Desa Kayupuring,” tandasnya. (Purni/Jw Kyp)

Related Posts: