Dinkes Kampanyekan Imunisasi MR dan Campak


Yosorejo (suarapetungkriyono.com) - Mengacu pada UU No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pekalongan melakukan sosialisasi kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) dan campak, Kamis (8/6) kemarin.

Sosialisasi ini bertujuan untuk memutuskan transmisi penularan virus Rubella dan Campak pada anak usia 6 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun. Pelaksanaannya ialah mulai bulan Agustus hingga September mendatang yang ditempatkan di pos pelayanan imunisasi atau sekolah.

Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten pekalongan, Casmudi, S. Kep., M. M mengatakan, selama imunisasi dipastikan orangtua atau pengasuh tetap berada di pos imunisasi selama beberapa waktu.

"Pastikan orangtua atau pengasuh tetap di pos pelayanan imunisasi selama 30 menit sesudah imunisasi, untuk mengantisipasi terjadinya efek samping," katanya.

Casmudi menambahkan, vaksin yang digunakan adalah buatan Biofarma Bandung yang sudah di eksport ke 150 negara termasuk negara-negara muslim.

"Jadi dipastikan aman dan terjamin kualitasnya," tambahnya.

Measlea Rubella (MR) merupakan penyakit infeksi virus Rubella yang sangat menular. Biasanya berupa penyakit ringan pada anak dan menular melalui saluran nafas pada saat batuk. Dampaknya bisa menyebabkan kegugura atau kecacatan pada ibu hamil.

Sedangkan Campak merupakan infeksi dari virus Myxovirus Viridae Measles yang juga sangat menular. Penularannya dapat melalui ludah dan saluran napas. Dampaknya dapat menyebabkan radang paru, radang otak, bahkan kematian.

Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, Matori menjelaskan, cara paling ampuh untuk bebas dari Rubella dan Campak adalah dengan imunisasi.

"Jadi imunisasi adalah harga mati alias wajib," katanya.

Peserta yang hadir dalam sosialisasi ini terdiri dari Muspika Kecamatan Petungkriyono, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas pendidikan, serta organisasi kemasyarakan. Dengan gaya bahasa pembicara yang santai dan humoris, membuat para peserta menjadi bersemangat.

"Acara ini sangatlah bermanfaat karena saya jadi paham tentang virus Campak dan Rubella, apa dampak dan pencegahannya." ujar Surowati warga setempat. (ria/jw/yos)

Related Posts:

Zero Waste Sebagai Pengendalian Sampah


Kesimpar (suarapetungkriyono.com) - Dalam rangka pengesahan peraturan Bupati Pekalongan Tahun 2017 tentang pengurangan sampah plastik dan pengendalian kantong plastik, diadakan peresmian pengendalian penggunaan kantong plastik menuju zero waste di destinasi ekowisata Petungkriyono, Selasa (6/6) kemarin.

Tujuan peresmian ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan plastik dengan konsep zero waste, yaitu dengan mengelola sampah untuk didaur ulang dan dapat difungsikan kembali.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi saat berkunjung di kawasan Ekowisata Curug Lawe Desa Kasimpar Kecamatan Petungkriyono beberapa waktu lalu menegaskan, pengendalian sampah plastik adalah untuk menjaga dan menyelamatkan lingkungan.

"Karena butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk bisa terurai di dalam tanah. Dampaknya alam kita bisa rusak. Kita bisa memanfaatkan daur ulang sampah plastik untuk menekan kerusakan lingkungan dan dibuat kerajinan untuk tambahan penghasilan," katanya.

Asip menambahkan, Petungkriyono sangat luar biasa wisata alamnya. Namun dengan menjaga dan mengendalikan sampah di sekitar wisata, maka akan lebih banyak menarik minat pengunjung.

"Kedepan pasti akan lebih banyak lagi wisatawan yang berkunjung. Untuk itulah kita harus selalu menjaga dan melakukan pengendalian sampahnya," tambahnya.

Acara ini dihadiri oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Pekalongan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Petungkriyono, pelajar serta masyarakat guna saling emelihara dan menjaga alam sekitar. Karena hal itu merupakan tugas bersama. Jangan sampai merusak dan membebaninya dengan sampah. Karena kebutuhan hidup manusia tidak lepas bergantung pada alam.

Ketua Pokdarwis Curug Lawe, Casmanto mengatakan, menumbuhkan kesadaran di masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik masih susah, sehingga perlu adanya pendekatan. Pihaknya pun selalu melakukannya dengan menjaga lingkungan di area tempat wisata.

"Langkah awal kami adalah dengan menyediakan tempat pembuangan plastik dan organik,  memasang plang untuk membuang sampah pada tempatnya, selalu menjaga dan membersihkan sampah di lingkungan wisata. Kami juga selalu memberikan pengertian pada wisatawan untuk menjaga lingkungan," pungkasnya. (ria/jw/yos).

Related Posts:

Warga Rela Berjalan Kaki Demi Perubahan


Yosorejo (suarapetungkriyono.com) - Puluhan peserta Musyawarah Desa (Musdes) di Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan rela berjalan kaki menuju Kantor Kepala Desa demi berpartisipasi dalam pembangunan desa, Selasa (13/6).

Dengan semangat dan harapan tinggi, mereka berjalan dari masing-masing dusun dengan jarak tempuh terjauh sekiatar 1 jam dengan berjalan kaki. Hal ini lantaran banyak permasalahan di dusun mereka yang ingin diungkapkan dan juga diperhatikan. Dengan harapan akan adanya perubahan dan kesejahteraan.

Salah satu peserta dari dusun Sikucing, Slamet Rahayu mengungkapkan, dirinya beserta rombongan datang dengan harapan bisa menyampaikan aspirasi dan permasalahan di wilayahnya.

"Meski jauh kami berjalan tapi tidak masalah, karena semua ini demi kemajuan desa kami," ungkapnya.

Meskipun dengan cuaca mendung dan gerimis, tidak menyurutkan semangat warga. Perubahan fisik sebagai seorang ibu yang sedang hamil juga tidak menjadi penghalang untuk ikut berpartisipasi.

"Saya tidak mengeluhkan kehamilan saya, untuk melakukan perubahan saya merasa perlu untuk datang ke sini," ungkap warga lainnya, Eriyani sambil memegang perutnya.


Desa Yosorejo terdiri dari 5 Dusun, yaitu Dranan, Mudal, Garung, Candi dan Sikucing. Pemaparan masalah yang dikeluhkan di antaranya banyaknya anak putus sekolah karena faktor biaya.

Selain itu, tidak adanya transportasi untuk siswa menuju sekolah, membuat orangtua khawatir dan enggan mengizinkan anaknya bersekolah. Kurangnya fasilitas pendidikan Anak Usia Dini (Paud) dalam dalam proses pembelajaran di masing-masing dusun juga perlu mendapat perhatian.

Sedangkan dalam kesejahteraan kesehatan dibutuhkan bidan desa di masing-masing dusun.  Kelengkapan alat dan fasilitas kesehatan juga sangat diharapkan. Agar warga bisa mendapatkan pelayanan yang tepat waktu dan maksimal sehingga tidak harus pergi jauh ke kecamatan.

"Kurangnya pembangunan dan perawatan saluran air bersih, pengadaan jamban sehat, serta aliran pembuangan, juga menjadi keluhan. Karena hal ini sangat menggaggu lingkungan dan kesehatan," tandasnya.  (ria/jw/yos)

Related Posts:

Warga kayupuring Dambakan Jamban Sehat

Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Jamban menjadi kebutuhan vital bagi manusia untuk memenuhi panggilan alam. Namun kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi oleh sebagian warga Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, Sabtu (27/5).

Open Defecation Free (ODF) adalah kondisi ketika setiap individu dalam masyarakat tidak buang air besar sembarangan. Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan, sehingga untuk memutuskan rantai penularan ini harus dilakukan rekayasa pada akses ini.

Salah satu warga desa Kayupuring saat hendak membuang hajat di kolam.
Agar usaha tersebut berhasil, akses masyarakat pada jamban (sehat) harus mencapai 100% pada seluruh masyarakat. Sedangkan desa ODF (Open Defecation Free) adalah desa yang 100% masyarakatnya telah buang air besar di jamban sehat.

Salah satu warga setempat, Donifah (33) mengaku dirinya beserta keluarganya masih membuang air besar di kolam milik tetangganya. Mereka harus menempuh jarak 100 meter dari rumahnya untuk sampai di kolam sekedar membuang hajat.

"Setiap pagi hari saya harus pergi ke kolam untuk buang hajat. Soalnya mau gimana lagi, tidak ada jamban di rumah," ungkapnya saat ditemui di rumahnya (27/5).

Selain Donifah, masih banyak warga lain yang belum memiliki jamban. Padahal kebutuhan vital ini menjadi penting bagi kesehatan keluarga, khususnya yang masih usia kanak-kanak. Namun warga setempat sudah terbiasa membuang hajat di kolam lantaran madih banyak yang belum memiliki jamban sehat.

Hal ini juga dialami Suci Hidayani (13) yang setiap hari harus membuang air besar di tempat neneknya. Karena di rumahnya belum ada jamban. Sedangkan untuk membuang hajat di kolam, dirinya merasa malu dan khawatir jika ada orang lain yang melihat.

"Saya sebenarnya ingin punya jamban di rumah. Tapi gimana ya, kata orangtua belum ada uang untuk buat jamban. Uangnya harus dipakai untuk kebutuhan lain yang lebih penting," ungkapnya.(purni/kyp)

Related Posts: