Nyadran Bumi Alasan Refleksi Sosial Keagamaan

Warga Desa Kayupuring tengah menjalani resepsi Nyadran Bumi Alasan
Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Bagi masyarakat Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, Nyadran Bumi Alasan atau Sadranan merupakan agenda tahunan sebagai refleksi sosial keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarai makam para leluhur.

Tradisi ini dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Nyadran dalam tradisi Jawa khususnya, pada bulan Muharam atau bulan Asuro dan menjelang Ramadan, yaitu bulan Sya'ban atau Ruwah.

Salah satu warga Sutarjo mengatakan nyadran sudah dilakukan sejak lama.

"Nyadran Bumi alasan dilakukan di makam sejak tahun 1970 dan sebelum itu hanya dilakukan di tempat kepala desa," katanya (7/5).

Nyadran dan ziarah kubur merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan dalam ritual dan objeknya. Perbedaanya hanya terletak pada pelaksanaan, di dalam Nyadran biasanya ditentukan waktunya oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah dan pelaksanaanya dilakukan secara kolektif.

Tradisi Nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama dan Yang Maha Kuasa atas segalanya. Nyadran merupakan pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai Islam.

Implementasi dari ritual nyadran tidak hanya sebatas membersihkan makam leluhur tapi mereka juga membuat ambengan nasi, ayam satu gluntung (ayam masih utuh yang dikukus hanya diambil bulu dan jeroan). Ayam nasi dan masakan tersebut dibawa menggunakan tenong (alat tradisional untuk membawa ambeng) dan mereka berdoa bersama yang dipimpin Kayim atau Kyai.

Pembersihan makam biasanya dilakukan bersama-sama sehari sebelum acara Sadranan. "Nyadran adalah budaya hindu budha yang artinya membersihkan makan leluhur, " ungkap Munarjo, salah satu tokoh masyarakat setempat.

"Semoga dengan adanya kegiatan rutinan setiap bulan Asuro Muharam dan bulan Sya'ban  yang dilakukan warga Desa Kayupuring bisa memupuk tali silaturahmi antar warga dan kegiatan tahlilan yang dilakukan di makam bisa dilaksanakan secara rutin," tambahnya.

Setelah tahlilan di makam, Slamet selaku sesepuh desa setempat memimpin doa dengan tata cara Islam dan suasana gegap gempita tergambar semangat melafalkan amin sambil berteriak. setelah selesai berdoa semua yang hadir mencicipi makanan yang digelar.

Dari tata cara tersebut jelas Nyadran tidak sekedar ziarah makan leluhur tapi ada nilai-nilai sosial budaya seperti budaya gotong-royong, ekonomi, pengorbanan, dan bukan sekedar Nyadran. Sambil mencicipi makanan yang digelar, mereka pun bertukar pikiran pekerjaan dan lainya sehingga tercipta komunikasi sosial yang baik.

"Nyadran dalam konteks Indonesia saat ini telah menjelma sebagai refleksi wisata rohani. Masyarakat yang disibukkan dengan aktifitas, melalui Nyadran tersentak kesadaran bersentuhan nilai-nilai agama," tandasnya. (kirjo/kyp/fid)

Related Posts:

0 Response to "Nyadran Bumi Alasan Refleksi Sosial Keagamaan"

Posting Komentar