Workshop Jurnalis Warga Petungkriyono

Peserta diminta untuk Membuat Reportase Singkat 

Yosorejo (suarapetungkriyono.com) – Workshop jurnalis warga di Kantor Kecamatan Petungkriyono Kabupeten Pekalongan diikuti oleh 3 desa yang terdiri dari Desa Kayupuring, Desa Yosorejo, dan Desa Tlogohendro yang masing-masing desa diwakili 5 orang peserta jurnalis warga, Rabu (26/4/2017).

Workshop ini dihadiri oleh Penggagas Jurnalis Warga Kabupaten Brebes, Bahrul Ulum, SE. M.Si dan rekan-rekan dari Kabupaten Brebes. Dihadiri pula oleh Sekretaris Camat (Sekcam) Petungkriyono, Agus Dwi Nugroho.

Acara workshop disambut dan dibuka oleh Sekcam Petungkriyono yang sangat mendukung adanya program jurnalis warga ini.

“Saya berharap dari para warga yang terpilih di sini daapat mengikuti kegiatan dengan baik sehingga mampu menggali potensi yang ada di  Petungkriyono ini,” kata Agus.

Materi demi materi telah disampaikan oleh narasumber dari Kabupaten Brebes. Penggagas Jurnalis Warga Kabupaten Brebes, Bahrul Ulum, SE. M.Si mengatakan, dengan adanya pelatihan ini peserta memajukan daerahnya.

“Dengan adanya pelatihan jurnalis warga, masyarakat dapat memberikan berita yang ada di desanya masing-masing dan memajukan daerah Petungkriyono,” katanya.

Salah satu peserta workshop jurnalis warga, Rasiti mengatakan, kegiatan ini sangat bermanfaat dan menginspirasi.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan menginspirasi warga Petungkriyono khususnya ibu rumah tangga,” katanya. (sw/kyp/fid)

Related Posts:

Jurnalis Warga untuk Warga



Yosorejo (suarapetungkriyono.com) - Di Kantor Kecamatan Petungkriyono Kabupeten Pekalongan dilaksanakan pelatihan jurnalis warga yang diikuti 12 peserta dari 3 desa, yaitu Desa Kayupuring, Desa Yosorejo, dan Desa Tlogohendro yang dipandu oleh Tim Trainer dari Brebes, Rabu (26/4/2017).

Dari Muspika Kecamatan diwakili oleh Sekretaris Camat (Sekcam) Petungkriyono, Agus Dwi Nugroho. Dirinya mengatakan, pihaknya sangat mendukung program pelatihan jurnalis warga ini.

Salah Satu Peserta Mendapatkan Doorprize Saat Bedah Berita
“Program pelatihan jurnalis warga ini dapat membawa Kecamatan Petungkriyono lebih maju dan dapat akses di media jurnalis warga,” katanya.

Agus melanjutkan, pihaknya memberikan motivasi dan dukungannya agar selama kegiatan jurnalis warga dapat berjalan dengan lancar dan peserta dari masing-masing desa dapat memberikan kontribusi terhadap desanya.

“Nanti jurnalis warga ini bisa memberikan kontribusi dengan mengangkat tulisan-tulisan untuk desanya,” lanjutnya.

Dalam kegiatan workshop ini banyak peserta yang mendapatkan apresiasi berupa penghargaan dalam penulisan maupun pengisian jawaban dari soal yang diberikan panitia. (sw/tlg/fid)

Related Posts:

Bongko, Kue Khas Petungkriyono


Petungkriyono (suarapetungkriyono.com) - Singkong atau ubi kayu merupakan bahan makanan yang tak asing lagi di kalangan masyarakat Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan. Hal ini karena tanaman singkong tumbuh subur di ladang pertanian yang ditanam bersamaan dengan sayuran jenis lainnya.

Manfaat singkong di antaranya mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan serat pangan. Karena itulah singkong dijadikan alternatif pemenuhan gizi masyarakat di Petungkriyono.

Salah satu olahan singkong yang sampai sekarang masih diminati adalah kue Bongko. Ialah olahan singkong yang dikukus bersama gula aren kemudian dibungkus dengan daun pisang. Rasa kue ini sangat legit dan teksturnya sangat lembut.

Kue ini pun banyak dijumpai di Kecamatan Petungkriyono dengan harga yang cukup terjangkau, yakni cukup dengan harga Rp 500 per buah. Biasanya dijual oleh pedagang keliling, atau dititipkan di warung makan sekitar Petungkriyono.

Ditemui beberapa waktu lalu saat berjualan, penjual kue Bongko Karyati mengaku dirinya sudah lama berjualan kue legit (manis) ini.

"Saya sudah lama sekali membuat kue Bongko ini. Yang membuat kue ini enak rasanya, karena saya selalu menggunakan bahan yang bagu., Dan tanpa campuran pemanis buatan, murni dari gula aren asli Petungkriyono," katanya.

Salah satu warga yang sering membeli kue ini Samini mengatakan, tekstur kue Bongko yang legit dan lembut, serta aroma rasa dari gula aren yang tidak terlalu manis dan gurih, membuat banyak penikmat Bongko tak bosan mencicipi.

"Saya suka dengan kue Bongko ini. Dari dulu saya selalu beli, rasanya enak dan legit," ungkapnya. (ria/yos/fid)

Related Posts:

Ibu Rumah Tangga Ingin Memiliki Grup Rebana

Ibu rumah tangga di Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriono nampak antusias ikuti latihan rebana.
Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Sebagai upaya untuk meningkatkan kreativitas dan menumbuhkan bakat kesenian kaum perempuan terutama ibu rumah tangga, latihan qosidah rebana di Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan rutin diadakan. Kegiatan latihan ini diikuti 36 ibu rumah tangga, Rabu (3/5).

kreativitas Islami di Desa Kayupuring muncul karena melihat keaktifan kegiatan Islami di desa lain, salah satunya Desa Kasimpar yang sudah memiliki grup rebana. Desa Kayupuring pun bertekad untuk memiliki grup serupa dengan serius melakukan latihan rutin.

Terlebih keprihatinan para ibu rumah tangga terhadap generasi muda Desa Kayupuring yang kurang berminat dengan kesenian ini. Alhasil, seiring berjalannya waktu kegiatan rebana di desa ini mulai hilang. Sedangkan di desa lain makin aktif.

Pelatih rebana, Ustadz Mahfud mengatakan, mereka nampak bersemangat dan antusias mengikuti latihan. karena tekat mereka untuk membangkitkan kesenian Islami ini sangat kuat.

"Berlatihlah sungguh-sungguh supaya mendapat barokah dari Allah," katanya.

Latihan ini dilaksanakan di rumah salah satu warga Desa Kayupuring dan dilakukan 4 kali dalam seminggu di waktu ba'da Magrib hingga malam hari.

"Saya sangat senang melatih rebana ibu-ibu di Desa Kayupuring. Dan sekarang mulai bisa memainkan musik rebana dengan baik. Kami berharap latihan rebana ini terus berjalan dan rutin dilakukan, agar para ibu rumah tangga di sini memiliki kreativitas seni yang baik," tukasnya. (rasiti/kyp/fid)


Related Posts:

Perempuan Berpeluang dalam Perubahan Desa



Yosorejo (suarapetungkriyono.com) - Adanya Undang-undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa, memberikan peluang kepada masyarakat untuk ikut memajukan desa, termasuk pelibatan perempuan untuk perubahan. Hal ini diungkapkan Distric Fasilitator Progam Akuntabilitas Sosial dan Partisipasi Masyarakat, Hariyoko di Balai Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Selasa (23/5).


Hariyoko mengungkapkan, peran perempuan menjadi agen perubahan sangatlah penting. Peran perempuan dalam implementasi UU No 6 Tahun 2014, membuka kesempatan bagi kelompok perempuan yang ada di desa untuk ikut berperan aktif dalam pembangunan desa.
Sekelompok perempuan di Desa Yosorejo
Kecamatan Petungkriyono tampak dilibatkan dalam Musdes.

"Adanya peran masyarakat terutama dari kaum perempuan dalam forum semoga bisa membuat masyarakat jauh lebih kritis dan aktif, dan nantinya bisa mendorong kemajuan di desanya," ungkapnya.

Selama ini, kata Yoko, perempuan mengalami peminggiran hak-haknya karena hanya bisa mengurus rumah tangga dan keluarga. Padahal aspirasi perempuan juga dibutuhkan dalam pembangunan. Sehingga dalam kesempatan ini.

"Diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk menjadi pembenahan relasi gender tentang kesetaraan," katanya.

Hadir pada acara Musyawarah Desa (Musdes) sebanyak 43 orang dari perwakilan masing-masing Dusun. Peserta perempuan mendominasi kegiatan ini, dengan keterlibatannya sekitar 55 persen.

Dalam suasana yang santai masih banyak peserta yang malu dalam menyampaikan pendapat. Dan sebagian masih bingung, karena sebelumnya kelompok perempuan di desa ini tidak pernah mengikuti acara musyawarah di desa.

"Awalnya saya merasa bingung diundang di balai desa ini, tapi saya merasa senang bisa dilibatkan untuk memajukan desa saya," ungkap warga setempat, Tamirah sambil tersenyum. (ria/yos/fid)

Related Posts:

Tradisi Kerja Bakti Masih Kental

Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Tradisi kerja bakti oleh masyarakat Indonesa masih sangatlah kental. semagat gotong-royong masyarakat seolah sudah menjadi keharusan dalam hidup bersama. Tepatnya di Dukuh Jimat Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, kehidupan masyarakat sangat rukun, Selasa (23/5).

Warga Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono
 Tengah menggelar kerja bakti

.
Masyarakat setempat selalu bergotong-royong dalam berbagai kegiatan di desa, seperti gotong-royong membangun rumah, menggarap sawah, dan yang sudah sangat rutin dilaksanakan adalah kerja bakti membersihkan lingkungan desa.


"Sesuai kodratnya, manusia tidak dapat hidup sendirian. Mereka tidak dapat memenuhi semua kebutuhannya sendiri. Ketika membutuhkan buku, kamu memerlukan penjual buku. Ketika kita membutuhkan pakaian, kita memerlukan penjual pakaian" ungkap Slamet, wrga setempat yang terlibat dalam kerja bakti ini.


Menurutnya, manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari konteks kerjasama. Kebutuhan akan tetap mendorong untuk saling memenuhi. Setiap orang pasti tidak dapat hidup seorang diri.

"Misalnya kerja sama membersihkan lingkungan, dengan bekerja sama semua pekerjaan berat menjadi ringan. Pekerjaan juga menjadi cepat selesai," katanya.
 
Menurut warga lain, Sartono mengungkapkan, kerja bakti di Dukuh Jimat Desa Kayupuring sudah dilakukan sejak dulu. Mereka menganggap dengan kerja bakti, semua pekerjaan akan terasa ringan. Kerja bakti ini pun sudah turun-temurun dilakukan dari nenek moyang yang, dan dilakukan setiap hari Selasa.

"Semoga dengan kerja bakti ini akan tercipta lingkungan yang bersih dan aman serta nyaman "kata sartono" ungkapnya. (kirjo/kyp/fid)

Related Posts:

Di Petungkriyono, Musdus Libatkan Perempuan

Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Sekitar 32 warga Dusun Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan mengadakan musyawarah dusun (musdus) di rumah Daryatno, Kepala Dusun setempat, Kamis (27/4) kemarin.

Musdus tersebut juga diikuti warga dan Ketua RT yang terdiri dari RT 3 sampai RT 6 dan melibatkan ibu rumah tangga sebagai perwakilan kelompok perempuan. Kegiatan musdus ini merupakan salah satu program dari Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (Kompak) yang menjadikan 3 kabupaten di Jawa Tengah sebagai pilot project.

Kelompok peremuan tengah mengikuti musdus
Di Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan.
Community Organizer (CO) Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Muhammad Syukur menyampaikan, pembangunan desa tidak hanya diketahui pemerintah desa dan kelompok laki-laki, tapi semua warga termasuk perempuan juga harus mengetahuinya.

"Pembangunan desa yang harus tahu tidak hanya pemerintah desa dan bapak yang mewakili. Semua warga Dusun Kayupuring juga harus tahu," ungkapnya.

Lebih lanjut, Distric Fasilitator (DF) Formasi Haryoko mengatakan, selain dihadiri kepala dusun dan beberapa ketua RT, kegiatan musdus ini juga dihadiri isteri Kepala Desa Kayupuring. Musdus ini diadakan pada waktu siang hari dengan diikuti warga yang tersebar di 4 RT.

"Ini kegiatan musdus SAPP-Formasi-Kompak namun Sejawa Tengah Formasi dan Kompak mengambil 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Brebes, Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Pekalongan. Dari Kabupaten Pekalongan, 3 desa yang diambil adalah Desa Tlogohendro, Yosorejo dan Kayupuring," katanya.

Haryoko menerangkan, tujuan musdus adalah pembangunan desa yang meliputi pelayanan masyarakat, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Karena kelurahan kayupuring ada 6 dusun maka setiap dusun harus ada yang mewakili 7 kader, sehinggga 1 kelurahan terdapat 42 kader.

"Tujuan musdus ini yang perlu dibahas adalah hak dan kewajiban, misalnya hak warga miskin dan warga yang punya kebutuhan khusus (difabel). Lewat kegiatan ini bisa mndorong masyarakat untuk memperhatikan warga miskin, kurangnya pembangunan di lingkungan skitar. Dan musdus ini dilakukan stiap bulan skali," terangnya. (Donifah/kyp/fid)

Related Posts:

Nyadran Bumi Alasan Refleksi Sosial Keagamaan

Warga Desa Kayupuring tengah menjalani resepsi Nyadran Bumi Alasan
Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Bagi masyarakat Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, Nyadran Bumi Alasan atau Sadranan merupakan agenda tahunan sebagai refleksi sosial keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarai makam para leluhur.

Tradisi ini dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Nyadran dalam tradisi Jawa khususnya, pada bulan Muharam atau bulan Asuro dan menjelang Ramadan, yaitu bulan Sya'ban atau Ruwah.

Salah satu warga Sutarjo mengatakan nyadran sudah dilakukan sejak lama.

"Nyadran Bumi alasan dilakukan di makam sejak tahun 1970 dan sebelum itu hanya dilakukan di tempat kepala desa," katanya (7/5).

Nyadran dan ziarah kubur merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan dalam ritual dan objeknya. Perbedaanya hanya terletak pada pelaksanaan, di dalam Nyadran biasanya ditentukan waktunya oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah dan pelaksanaanya dilakukan secara kolektif.

Tradisi Nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama dan Yang Maha Kuasa atas segalanya. Nyadran merupakan pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai Islam.

Implementasi dari ritual nyadran tidak hanya sebatas membersihkan makam leluhur tapi mereka juga membuat ambengan nasi, ayam satu gluntung (ayam masih utuh yang dikukus hanya diambil bulu dan jeroan). Ayam nasi dan masakan tersebut dibawa menggunakan tenong (alat tradisional untuk membawa ambeng) dan mereka berdoa bersama yang dipimpin Kayim atau Kyai.

Pembersihan makam biasanya dilakukan bersama-sama sehari sebelum acara Sadranan. "Nyadran adalah budaya hindu budha yang artinya membersihkan makan leluhur, " ungkap Munarjo, salah satu tokoh masyarakat setempat.

"Semoga dengan adanya kegiatan rutinan setiap bulan Asuro Muharam dan bulan Sya'ban  yang dilakukan warga Desa Kayupuring bisa memupuk tali silaturahmi antar warga dan kegiatan tahlilan yang dilakukan di makam bisa dilaksanakan secara rutin," tambahnya.

Setelah tahlilan di makam, Slamet selaku sesepuh desa setempat memimpin doa dengan tata cara Islam dan suasana gegap gempita tergambar semangat melafalkan amin sambil berteriak. setelah selesai berdoa semua yang hadir mencicipi makanan yang digelar.

Dari tata cara tersebut jelas Nyadran tidak sekedar ziarah makan leluhur tapi ada nilai-nilai sosial budaya seperti budaya gotong-royong, ekonomi, pengorbanan, dan bukan sekedar Nyadran. Sambil mencicipi makanan yang digelar, mereka pun bertukar pikiran pekerjaan dan lainya sehingga tercipta komunikasi sosial yang baik.

"Nyadran dalam konteks Indonesia saat ini telah menjelma sebagai refleksi wisata rohani. Masyarakat yang disibukkan dengan aktifitas, melalui Nyadran tersentak kesadaran bersentuhan nilai-nilai agama," tandasnya. (kirjo/kyp/fid)

Related Posts:

Dua Penyandang Disabilitas Butuh Perhatian

Nasib Miskiyah Kayupuring Petungkriyono Pekalongan
Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Miris, itulah ungkapan yang sesuai dengan kondisi keluarga Taryamah warga Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan yang sudah lanjut usia.

Dua cucunya, Miskiyah (23) dan Tegar Sugianto (3,5) menyandang disabilitas sejak kecil. Keduanya tak bisa melakukan banyak aktivitas karena kondisi kesehatannya. Karena kondisi ekonomi yang kurang mendukung, Taryamah belum mengetahui apa penyebab yang diderita oleh kedua cucunya.

Menurut Taryamah, Miskiyah waktu belum berumur 1,5 tahun masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Namun sejak di usia itu mulai nampak tanda-tanda penyakitnya. Berbeda dengan Tegar, yang  saat itu lahir tidak menangis. Semenjak itu Tegar hanya bisa diam dan tak banyak bergerak.

"Waktu lahir, Tegar tidak nangis dan kurang tahu penyebabnya. Dia hanya bersuara seperti kesakitan, sudah itu diam. Setiap hari hanya diam dan tidak banyak gerak," ungkapnya (9/5).

Miskiyah adalah cucu dari anak kedua Taryamah, sedangkan Tegar Sugianto cucu dari anak ketiga Taryamah yang sudah menjanda beberapa bulan yang lalu. Padahal anak dari suami pertamanya tidak mengalami hal seperti ini.

Sementara menurut keterangan warga sekitar, belum ada tanggapan dan perhatian dari pemerintah setempat untuk mengetahui lebih serius mengenai jenis penyakit apa yang diderita kedua cucu Taryamah tersebut.

"Kami berharap bantuan dari pemerintah untuk memberikan yang terbaik pada dua cucu ibu Taryamah," ungkap salah satu tetangga Taryamah, Waltini.

Masih menurut warga setempat, dulu waktu Miskiyah masih kanak-kanak pernah mendapatkan bantuan tapi tidak dijelaskan bantuan dari mana. Penyandang disabilitas ini kini hanya bisa terbaring dengan kondisi yang ringkih. Keduanya sangat membutuhkan perhatian. Namun ada sebagian warga yang menyebutkan bahwa keluarga Taryamah sudah masuk program bantuan pemerintah.

"Setahu saya hanya sekali itu saja. Sampai sekarang sangat kurang perhatian dari pemerintah setempat," tukasnya.(purni/kyp)

Related Posts:

Pelajar Petungkriyono Juarai Lomba Cagar Budaya Tingkat Jateng

Petungkriyono (suarapetungkriyono.com) - Prestasi membanggakan diraih oleh Kiswantoro, siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Petungkriyono. Dirinya berhasil menjabet juara 1 lomba Cagar Budaya tingkat Povinsi Jawa Tengah. Putra dari Sahuri dan Dakumi, yang merupakan warga Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono ini mampu menggulingkan 50 peserta lain dari berbagai daerah. 

Meski orangtua Kiswantoro bekerja sebagai petani. Namun sebagai generasi muda ia merasa prihatin dengan minimnya pengetahuan dan informasi mengenai cagar budaya di Petungkriyono.

Di lingkungan sekolahnya, hanya sedikit teman-temannya yang mengetahui situs budaya di Petungkriyono. Keprihatinan inilah yang membuat Kiswantoro mengangkat penelitian mengenai cagar budaya di Petungkriyono Kabupaten Pekalongan.

Kiswantoro melakukan observasi dan wawancara di lapangan. Mengunjungi beberapa situs yang ada di Petungkriyono seperti Nogo Pertolo dan Watu Kamar yang terletak di Desa  Tlogopakis, Gedong di Dukuh Kambangan, Monumen Perjuangan di Dukuh Kasimud, dan Watu Lapak di Dukuh Gondang.

"Saya sangat menyayangkan, karena ternyata masih sedikit generasi muda yang tahu dan peduli dengan situs cagar budaya di Petungkriyono. Padahal ini adalah warisan tak ternilai harganya. Kalau tidak kita yang menjaga siapa lagi?" ungkapnya saat ditemui di sekolahnya, Sabtu (6/5).

Dewan guru SMA Negeri 1 Petungkriyono, akhirnya membuat tim untuk membantu penelitian tersebut. Ada tiga guru yang berperan sebagai pembimbing, yaitu Darli, S.Pd (guru tata tulis),  Puji Riyatno M. Hum (guru sejarah), serta Nunuk Riza Puji, S.T (guru IT). 

Ditemui di ruang kerjanya, Nunuk Puji Riza selaku guru pembimbing mengatakan, sebagai pendidik tugasnya hanya mengarahkan.

"Sebagai pendidik kami hanya mengarahkan apa yang menjadi permasalahan, memfasilitasi,  dan memcoba memberi masukan untuk menyelesaikan masalah," katanya.

Nunuk menambahkan, pihaknya mencoba mengemas dengan aplikasi Partala yang dapat digunakan di smartphone, kemudian memasukan informasi mengenai situs budaya di Petungkriyono.

"Hasilnya ternyata bisa menjadi pemandu informasi yang menarik dan menyenangkan. Selanjutnya kami berharap semoga akan lebih banyak lagi siswa Petungkriyono yang menorehkan prestasi, sehingga dapat memotivasi lebih banyak siswa untuk bersekolah," tambahnya. (ria/yos/fid)

Related Posts:

Jekduk Permudah Layanan Adminduk

Satuan Petugas Jekduk Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan bersama warga tengah menunjukkan administrasi kependudukan.
Petungkriyono (suarapetungkriyono.com) - Dalam rangka mempermudah dan mempercepat layanan administrasi kependudukan (adminduk), Pemerintah Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan membuat inovasi ojek layanan admnistrasi kependudukan (Jekduk). Pasalnya, letak geografis Kecamatan ini jauh dari pusat layanan, Kamis (4/5).

Untuk menuju pusat Pemerintahan Kabupaten Pekalongan, warga Petungkriyono harus menempuh jarak 34 kilometer. Sehingga memerlukan waktu tempuh lebih lama dengan biaya yang lebih besar. Juga kondisi jalan yang rusak cukup parah.

Jekduk dinilai menjadi solusi untuk permasalahan tersebut. Karena Jekduk dapat melayani seluruh masyarakat dengan lebih luas, serta  tidak memerlukan biaya (gratis). Masyarakat pun dapat langsung menerima berkas tersebut di rumah

Ditemui di kantor kecamatan, Sekretaris Camat Petungkriyono Agus Dwi Nugroho, S. STp mengatakan, masyarakat hanya perlu datang ke desa untuk menyerahkan berkas kepada satgas kewilayahan (sekdes),  kemudian satgas kewilayahan menyerahkan kepada operator pencatatan sipil (capil) kecamatan.

"Selanjutnya akan dibawa satgas operasional (aparatur kecamatan) ke capil kabupaten, setelah selesai berkas akan diserahkan kepada warga," ungkapnya (4/5).

Agus menambahkan, launching Jekduk dilaksanakan sekitar awal September 2016 lalu. Namun layanan ini masih berlangsung hingga saat ini karena dinilai sangat efektif. Sudah ada sekitar 121 warga dari 9 desa yang sudah memanfaatkan layanan ini. Dalam lomba inovasi kecamatan tahun 2016, Jekduk mendapat peringkat ke-2 di Kabupaten Pekalongan.

"Harapan saya akan lebih banyak lagi masyarakat Petungkriyono yang dapat memanfaatkan layanan ini. Karena prosesnya cepat,  gratis, dan memberikan kepastian pada masyarakat kapan selesainya," tambahnya.

Dengan adanya layanan Jekduk ini, diharapkan dapat menumbuhkan minat dan kesadaran masyarakat akan pentingnya administrasi kependudukan. Sehingga akan lebih banyak masyarakat untuk mengurusnya.

Ditemui di tempat berbeda, Operator Capil Kecamatan Petungkriyono Teguh Riswanto menjelaskan, kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya administrasi kependudukan, membuat masyarakat enggan untuk mengurusnya.

"Padahal dengan adanya layanan Jekduk ini masyarakat lebih dipermudah," tandasnya. (ria/yos/fid)

Related Posts:

KWT di Petungkriyono Kembangkan Produksi Gula Semut


Kayupuring (suarapetungkriyono.com) - Sebagai masyarakat indonesia pasti sudah mengenal dengan apa yang dinamakan gula aren. Gula aren merupakan salah satu jenis gula alami yang diproduksi dan dibuat menggunakan bahan alami dari buah aren. Berbeda dengan gula putih yang dibuat dari batang tebu.

Gula aren memiliki warna merah dan memiliki tekstur yang lebih kasar serta tidak berbentuk kristal. Gula aren biasa disebut gula merah. Dukuh Tembelan Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan merupakan salah sstu penghasil gula aren asli. Hampir 70 persen warga Dukuh Tembelan ini sebagai memproduksi gula aren.

"Masyarakat Dukuh Tembelan Desa Kayupuring sudah turun-temurun menjadi tukang deres (bekerja mengambil bahan baku yang nantinya diproses menjadi gula aren)," kata Wasjuri (55) warga setempat (30/4) kemarin.

Gula aren Dukuh Tembelan ini selain diproduksi dengan alat cetak manual, juga dibuat kreatif oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) yang diketuai Yantini, wanita yang kini menginjak usia setengah abad.

Gula semut yang diproduksi oleh KWT ini dijual dengan harga Rp. 30 ribu per kilogram. Sementara gula aren biasa dijual dengan harga Rp. 16 ribu per kilogram namun jika sudah diolah menjadi gula semut harganya mencapai Rp. 30 ribu per kilogram.

"Kelompok kami lagi belajar mengembangkan gula aren menjadi produk unggulan dengan cara membuat gula semut. Dan berkat usaha kami, gula semut sangat diminati oleh pengunjung yang datang ke tempat kami," kata Yantini.

Mantan Kadus Dukuh Tembelan Kasmali mengatakan, Kelompok Wanita Tani (KWT) yang ada di dukuh setempat yang diketuai oleh Yantini ini sangat antusias saat proses pembuatan gula semut. Dirinya berharap agar pemerintah setempat memberikan modal berupa alat produksi yang lebih modern.

"Semoga pemerintah memberikan bantuan alat yang lebih modern sehingga usaha pembuatan gula semut di desa kami lebih maju," pungkasnya. (kirjo/kyp/fid)

Related Posts: